Tampilkan postingan dengan label m nasim khan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label m nasim khan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Desember 2016

Nasim Khan: Pabrik Gula di Situbondo harus Eksis

Perbincangan serap aspirasi rakyat oleh anggota DPR FPKB M Nasim Khan terbawa aura positif dan optimis akan terwujudnya kesejahteraan bagi petani. Pabrik gula di wilayah Situbondo adalah salah satu penopang kesejahteraan petani tebu.

"Bila tanpa pabrik gula, tebu kami mau dibawa ke laut?," tanya Adi Purnomo, petani tebu Asembagus.

Meskipun akhir tahun ini para petani diliputi rasa kuatir akan dampak sistemik atas rencana ditutupnya tiga pabrik tebu, namun berkat perjuangan Nasim Khan optimisme tetap menyeruak hangat.

Para petani tebu meminta Nasim Khan gigih memperjuangkan kepentingan petani tebu agar serapan pasar tebunya jelas dan terarah.

"Kuncinya jelas, harus eksis pabrik tebunya," katanya.

Para petani tebu Asembagus bersilaturahim dan ramah tamah dengan anggota DPR asal Situbondo itu di sudut taman yang indah dan asri.

Minggu, 06 November 2016

Nasim Khan Kawal Pelatihan Bengkel di Bondowoso

Bondowoso, laskarjagad.net,- Anggota DPR MPR RI M Nasim Khan menghadiri pelatihan perbengkelan di Ijen view hotel, Bondowoso, 7/11. Acara yang selenggarakan Kementerian Perindustrian dan Dinas Koperasi, Perdagangan, dan Perindustrian Bondowoso ini diikuti oleh puluhan pemuda angkatan kerja asal kecamatan Botolinggo, Kabupaten Bondowoso.

Menurut Nasim Khan, program Kemenperin yang dilaksanakan ini langsung ditujukan ke masyarakat karena bernilai penting bagi pertumbuhan ekonomi rakyat.

"Mereka ini yang menjadi ujung tombak ekonomi rakyat. Sudah pada maqam-nya pemerintah membekali dengan ketrampilan tepat guna," katanya.

Menurut Nasim, wakil rakyat di Senayan sudah mengusulkan agar pemerintah selalu menganggarkan program untuk kegiatan yg lebih riil di masyarakat. 

"Ilmu perbengkelan lebih pas seiring makin banyak mesin di masyarakat. Baik mesin motor maupun mesin pertanian," imbuhnya.

Riefky Yuswandi, Kasubdit Program pengembangan IKM kima sandang aneka dan kerajinan, Kementerian Perindustrian, menjelaskan, program ini bisa berjalan karena dukungan pak Nasim Khan di DPR.

"Kami berharap program ini bisa berjalan tiap tahun di Bondowoso," katanya.

Acara tersebut juga dihadiri pejabat dinas perindustrian dan perdagangan kabupaten Situbondo. Di dalamnya dilaksanakan realisasi serah terima alat pengembangan industri sandang kepada kelompok masyarakat Raudlatul Adawiyah, Besuki, Bondowoso.

KRA



Senin, 24 Oktober 2016

Nasim Khan Nyanyikan Lagu “Ndang Baliyo Sri” di Depan Menkeu

Ir M Nasim Khan, Anggota Komisi VI dari Fraksi PKB Dapil Jawa Timur III (Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi). 
Jakarta, laskarjagad.net – Ketatnya pembahasan RAPBN 2017 di Komisi VI DPR tidak menyurutkan M Nasim Khan, Anggota DPR Dapil Jawa Timur III, untuk terus mengingatkan mitranya. Pekan lalu saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Nasim mengingatkan pentingnya sinergisitas antar lembaga pemerintah dalam memaksimalkan peran-peran kerakyatan. 

“Bu Menteri, jangan lupa sinergisitas,” pesannya kepada Menkeu Sri Mulyani. 

Kehadiran Menkeu di Komisi VI sekaligus mewakili Menteri BUMN Rini, menurut Nasim, sebagai konfirmasi atas pentingnya peran pemerintah dalam meningkatkan kinerja BUMN mengawal unit-unit usaha milik Negara untuk tujuan kemakmuran rakyatnya. Menteri Rini tidak hadir karena surat Ketua DPR belum ditanggapi Presiden Joko Widodo. 

“Hari ini saya sungguh bersyukur bisa bertatap muka dengan Bu Menteri (Sri Mulyani, red.). Ini bukti ke depan pengelolaan BUMN akan semakin baik,” tegas Nasim di depan Menkeu yang didampingi sejumlah Dirut dan Direksi BUMN, Sesmen Kementerian BUMN, dan Deputi BUMN di ruang rapat Komisi VI, Nusantara 1, Senayan, Jakarta, 19/10. 

Menurut Nasim, sebagai Wakil Rakyat, Komisi VI akan terus berupaya maksimal melaksanakan peran menyerap aspirasi rakyat dalam fungsinya sebagai budgeting, legislasi, dan pengawasan. Hal tersebut disampaikan Nasim sebagai titik tekan pentingnya mengutamakan rakyat dalam membuat kebijakan. 

“Kami ingin Bu Menteri selalu objektif menjalankan amanat rakyat sekaligus memaksimalkan program-program pemerintah untuk kepentingan rakyat,” pungkas Nasim. 

Dalam RDP politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini sempat menyanyikan lagi “Ndang Baliyo Sri” sebagai ungkapan kembalinya Menkeu Sri Mulyani Indrawati ke dalam jajaran kabinet Kerja pemerintahan Joko Widodo lebih giat bekerja untuk kepentingan rakya Indonesia, bukan yang lain. (kra)

Jumat, 21 Oktober 2016

Nasim Khan: Buruh PG di Situbondo harus Diselamatkan

Jakarta, laskarjagat.net,- Pimpinan dan sejumlah Anggota DPRD Situbondo mendatangi DPR Pusat di Senayan, Jakarta (19/10). Mereka menyampaikan aspirasi masyarakat Situbondo untuk meminta kebijakan penyelamatan terkait rencana penutupan pabrik gula (PG) di Situbondo.

Rombongan DPRD Situbondo dipimpin Ketua Basori Sonhaji diterima Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Farid Al-Fauzi dan didampingi sejumlah anggota Komisi VI, antara lain, Anggota DPR asal Jawa Timur III (Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi) M Nasim Khan. Untuk menerima aspirasi dari Situbondo, Komisi VI menggelar RDPU (rapat dengar pendapat umum) dengan mereka.
M Nasim Khan, Anggota DPR Dapil Jawa 
Timur III (Situbondo, Bondowoso, 
Banyuwangi) Fraksi Partai Kebangkitan 
Bangsa). Foto: Aurangzeb

Juru bicara sekaligus Ketua DPRD dari FPKB Basori Shonhaji didampingi 20 anggota DPRD yang ikut hadir, menyampaikan keberatan atas penutupan 3 (tiga) pabrik gula di Situbondo, yaitu PG Panji, PG Olean, dan PG Wringinanom, di bawah pengelolaan PTPN XI. Alasannya, menurut Sonhaji, penutupan PG akan menambah pengangguran dan memperlambat roda ekonomi daerah.

“Sebab total karyawan tiga pabrik itu mencapai lebih dari 3.000 orang. Setiap orang menanggung lebih dari dua jiwa. Penutupan PG akan berdampak buruk secara langsung kepada meraka,” kata Sonhaji.

Tanah Menganggur
Dikatakan, dampak buruk bukan hanya akan dialami karyawan PG. namun ratusan petani tebu juga akan mengalami kesulitan ekonomi. Pasalnya kondisi tanah di Situbondo kurang cocok untuk tanaman selain tebu.

“Tanah mereka akan ikut menganggur. Banyak tanah di Situbondo kurang cocok untuk tanaman selain tebu. Mau tanam apa mereka? Ini yang harus dipikirkan,” tambahnya.
Sementara itu Anggota DPR RI asal Asembagus, Situbondo, M Nasim Khan, mengatakan, banyak lahan di Situbondo berada di kawasan sulit air. Sehingga mencari tanaman penggantinya tidak mudah. 

M Nasim Khan bersama Anggota DPRD 
Kabupaten Situbondo setelah 
RDPU Komisi I DPR,
Senayan, Jakarta, 19/10/2016
“Tanah di sana (Situbondo, red.) tidak cocok ditanami padi atau palawija yang butuh banyak air. Jadi, lahan terancam mubadzir (sia-sia) dan tidak bermanfaat maksimal,” kata Nasim.  

Nasim Khan menyatakan, sebagai Wakil Rakyat dari Situbondo mengapresiasi aspirasi teman-teman DPRD Situbondo yang telah melakukan langkah-langkah membantu rakyat mengatasi penutupan PG.

Langkah Jangka Panjang
Dikatakan, pihaknya juga akan memaksimalkan peran sebagai Anggota DPR dengan mencari solusi bagi pembenahan dan pengembangan potensi Situbondo sebagai Kota Gula, baik dengan cara privatisasi atau revitalisasi atau pembangunan pabrik modern ditempatkan di Situbondo.

“Ini langkah jangka panjang, baik penyelamatkan karyawan maupun pengembangan lahan pertanian tebu. Sehingga bisa menekan angka pengangguran,” tutur Nasim. 

Selain itu, Nasim meminta Menteri BUMN dan Direktur PTPN XI segera mengambil langkah-langkah kongkrit untuk mengatasi persoalan ditutupnya tiga PG di Situbondo.

“Ini soal kehidupan mereka (karyawan, Red.). Tidak bisa ditunda-tunda. Bu Menteri dan Pak Dirut PTPN harus segera mengambil langkah,” pungkas Nasim. (kra)

Selasa, 11 Oktober 2016

Nasim Khan Kirim Delegasi Parlemen Santri dari Situbondo

Asembagus, LaskarJagad.net -- Anggota DPR Ir M Nasim Khan mengirimkan delegasi dari Situbondo untuk menjadi peserta Parlemen Santri di Gedung DPR, Senayan, Jakarta (11-12/10/2016). Ravika Mery Andani, delegasi dari SMA Negeri 1 Situbondo itu dikirim karena lolos seleksi lomba opini santri tingkat Dapil Jawa Timur III.

Menurut Bang Nasim, selain menjadi peserta parlemen santri, Ravika masuk nominator lomba opini santri HUT FPKB ke-17 untuk dikompetisikan dengan peserta dari daerah lain di tingkat nasional.

"Ini kebanggaan kami Situbondo bisa memberangkatkan Adinda Ravika karena karya tulisnya terbaik," tutur bang Nasim.

Menurut anggota dewan juri di Dapil, Achmad Barisi, lolosnya Ravika menyisihkan beberapa peserta lain yang gugur karena karya tulisnya kurang menonjolkan aspek pentingnya kesejahteraan rakyat. Selain itu ada yang gugur karena pengirimnya mahasiswa.

"Karya tulis Ravika kami nilai terbaik dan layak dibawa ke Jakarta," tutur Barisi sembari menerangkan judul karya Ravika adalah "Yang Dipimpin, Baru Pemimpin".

Parlemen santri digelar oleh fraksi PKB DPR dalam rangka HUT ke-17 tahun 2016 ini. Diikuti 300 peserta terdiri santri/pelajar. Di antara mereka adalah para nominator lomba karya tulis opini santri yang lolos seleksi di tingkat Daerah Pemilihan setempat.

Selain Situbondo, Dapil Jawa timur III juga mengirimkan 2 delegasi dari Banyuwangi dan 1 dari Bondowoso. (Kra)

Keterangan foto:
1. Ravika Mery Andani dan Ir M Nasim Khan (tengah). (Foto: M Rizah)

2. Ravika (jilbab ungu) berlatih simulasi memimpin Sidang Paripurna Parlemen Santri bersama peserta lain dari Medan, Pati, Pekalongan, Kuningan, dan Pemalang. Latihan di Perum RJA DPR Kalibata, Jakarta Selatan.

3. Ravika (jilbab hitam) duduk di kursi pimpinan saat memimpin Sidang Paripurna Pertama Parlemen Santri dengan agenda pemilihan pimpinan sidang definitif di ruang KK II, Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta. Ravika terpilih sebagai pimpinan itu bersama Ahmad Iir Irsyad asal Pati.


Minggu, 01 Mei 2016

Nasim Khan: Pancasila Itu Ideologi Kaum Santri

CENDERAMATA RAHMATAN LIL ALAMIN -- Anggota MPR RI dari Fraksi PKB, Ir M Nasim Khan, menyerahkan cenderamata rahmatan lil alamin kepada ketua DPC PKB Banyuwangi H Joni Subagyo saat melakukan sosialisasi empat pilar kebangsaan di Ponpes. Nurut Taqwa, Dusun Cemoro, Desa Balak, Kecamatan Songgon. Dari kiri ke kanan: Muhammad Ali Mahrus (Sekretaris DPC Banyuwangi), H Joni Subagyo (Ketua DPC), Ir M Nasim Khan, Pak Agung (MWC NU Songgon), dan Badrul Munir (DPP PKB). Teks dan foto: KHOLILUL ROHMAN AHMAD

Banyuwangi, SONGGON - Anggota MPR RI dari Fraksi PKB, Ir M Nasim Khan, melakukan kegiatan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD NRI 1945, di hadapan ratusan santri, guru Ponpes Nurut Taqwa, kader dan simpatisan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Aula Pondok Pesantren (ponpes) Nurut Taqwa, Dusun Cemoro, Desa Balak, Kecamatan Songgon, kemarin (1/5)

Di hadapan para santri, pengurus, dan pengasuh ponpes Nurut Taqwa itu, Nasim mengatakan pentingnya para santri serta ponpes menjaga dan mengamalkan empat pilar PBNU, yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD NRI 1945.

“Karena menjaga dan mengamalkan PBNU maka negara akan aman dan tetap utuh," katanya disambut tepuk tangan hadirin.

Nasim menjelaskan, kedatangannya ke Banyuwangi khususnya di Ponpes Nurut Taqwa adalah untuk mensosialisasikan PBNU. Sebab dengan Pancasila, semua suku agama dan etnis bisa disatukan.
“Di Indonesia ini ada banyak suku agama dan ras. Namun tetap kokoh dan aman, karena masyarakatnya mengamalkan Pancasila. Apalagi Pancasila ini ideologinya kaum santri. Harus paham seutuhnya,” jelasnya.

Menurutnya, dasar negara Pancasila sudah final, dan sampai saat ini, dasar negara itu tetap relevan. Jika di lain negara terjadi konflik, itu karena perbedaan agama dan etnis. Maka di Indonesia, masyarakatnya tetap bersatu dan hidup aman karena Pancasila.

"Sehingga Pancasila ini wajib dipahami, dan diamalkan oleh masyarakat Indonesia. Sehingga tidak mudah terprovokasi dengan paham-paham yang mengarah adu domba dan radikalisme,” terang anggota MPR Dapil Jawa Timur III ini (Bondowoso Situbondo Banyuwangi).

Pengasuh Ponpes Nurut Taqwa, Mohammad Ali Mahrus merasa bersyukur dan mengapresiasi kedatangan Anggota MPR Nasim Khan yang telah melakukan sosialisasi di ponpesnya.

Acara tersebut juga dirangkai dengan pelatihan pendidikan kader yang diikuti oleh pengurus ranting di dapil dua Banyuwangi, meliputi Kecamatan Songgon, Rogojampi, dan Singojuruh. Hadir dalam acara ketua DPC PKB Banyuwangi H Joni Subagyo dan juga menyampaikan kata sambutan.

KETERANGAN FOTO: Anggota MPR RI dari Fraksi PKB, Ir M Nasim Khan, menyerahkan cenderamata rahmatan lil alamin kepada ketua DPC PKB Banyuwangi h Joni Subagyo saat melakukan sosialisasi empat pilar kebangsaan di Ponpes. Nurut Taqwa, Dusun Cemoro, Desa Balak, Kecamatan Songgon.
Dari kiri ke kanan: Muhammad Ali Mahrus (Sekretaris DPC Banyuwangi), H Joni Subagyo (Ketua DPC), Ir M Nasim Khan, Pak Agung (MWC NU Songgon), dan Badrul Munir (DPP PKB).
Teks dan foto: KHOLILUL ROHMAN AHMAD

Kamis, 07 April 2016

Zaskia Gotik, Pancasila, dan Melawan Pikiran Dangkal

PANCASILA HIDUP KITA – Fraksi PKB MPR RI menggelar sosialisasi Empat Pilar bertajuk `Pancasila Hidup Kita` di Gedung Nusantara 5, Senayan, Jakarta (7/4/2016). Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Fraksi PKB MPR, H Abdul Kadir Karding.

Misi utama acara ini mengajak kepada masyarakat untuk memahami dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagi kalangan artis alias pekerja seni.

Puluhan artis hadir dalam acara ini, antara lain Zaskia Gotik, Tomi Kurniawan, Dwi Andika, Eddies Adelia, Bedu, Irma Darmawangsa, Maghdalena dan lain-lain.

Abdul Kadir Karding mengatakan, sebagimana dilansir Kompas dot com, sangat penting bagi para pekerja seni untuk memahami nilai-nilai dan ideologi Pancasila.

Sebab, sebagai publik figur, mereka mempunyai akses yang luas terhadap media massa melebihi politisi dan pejabat publik.

"Kenapa tidak kita dorong mereka jadi duta Pancasila," ucap Karding.

Terkait kasus Zaskia Gotik sendiri, Karding menilai, tak tepat jika dibawa ke ranah hukum.

Apalagi, pernyataan Zaskia yang menyebut lambang kelima Pancasila sebagai bebek nungging itu dilontarkan karena ketidaktahuan.

"Apa benar itu dianggap kriminal? PKB tidak membela siapapun, tapi dalam kasus seperti itu kita pilih persuasif karena kita tak mungkin menyalahkan Zaskia sepenuhnya," kata dia.

Sebaliknya, Karding mendorong agar pemerintah terus memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia sehingga masyarakat bisa menempuh sekolah setinggi-tingginya.

Berdasarkan survei, kata dia, saat ini masih ada 43 persen masyarakat Indonesia yang tidak hafal Pancasila.

Apakah Partai Kebangkitan Bangsa melawan arus besar media yang lebih suka menyudutkan Zaskia?

Mungkin. Dengan alasan seorang berhak menilai orang lain hanya berdasar arus besar yang sedang menggelora yang kini jadi trend sehingga sulit ditampik.

Tradisi bersosialmedia di Indonesia condong cepat bertindak (menilai sesuatu) tanpa pendalaman berpikir adalah salah satu trend yang sedang dihadapi bangsa ini. Sampai kapan pikiran dangkal begini terus hinggap di kepala?

Keterangan foto: PANCASILA HIDUP KITA -- Dari kiri ke kanan: Abdul Kadir Karding, Krisna Mukti, M Lukman Edy, Syaiful Bahri Anshori, Sandy Nayoan, Anna Muawanah, M Nasim Khan (Dapil Jawa Timur III: Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi), dan Arzeti Bilbina.

[Teks & foto: KHOLILUL ROHMAN AHMAD]


Senin, 21 Maret 2016

Nasim Khan: Indonesia aman tentram karena Pancasila


MENYERAHKAN CENDERAMATA
-- Anggota Fraksi PKB MPR M Nasim Khan menyerahkan cenderamata kepada Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Bondowoso KH Abdul Qadir Syamsul Arifin dalam acara Sosialisasi MPR Empat Pilar di Pondok Pesantren Nuruth Thalabah Bondowoso.


Bondowoso,- laskarjagad -- ANGGOTA MPR RI dari Fraksi PKB Ir M Nasim Khan, melakukan kegiatan sosialisasi Empat Pilar: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD NRI 1945 di hadapan ratusan santri dan guru Ponpes Nurut Thalabah Bunder Pancuran Bondowoso.
Di hadapan para santri, pengurus, dan pengasuh ponpes KH Asy'ari Fasya, Nasim mengatakan pentingnya para santri serta ponpes menjaga dan mengamalkan PBNU, yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD NRI 1945.

"Karena dengan menjaga dan mengamalkan PBNU maka negara akan aman dan tetap utuh," katanya.

Nasim menjelaskan, kedatangannya ke Bondowoso khususnya ke ponpes asuhan kiai Asy'ari itu adalah untuk mensosialisasikan PBNU. Sebab dengan Pancasila, semua suku agama dan etnis bisa disatukan.

"Di Indonesia ini ada banyak suku agama dan ras. Namun tetap kokoh dan aman, karena masyarakatnya mengamalkan Pancasila," katanya.

Sedangkan dasar negara Pancasila sudah final. Bahwa, katanya, tokoh bangsa dan agama pada tahun 1945, sudah sepakat untuk menjadikan Pancasila sebagai dasar negara. Dan sampai saat ini, dasar negara itu tetap relevan.

"Kalau di negara lain kerap terjadi konflik karena perbedaan agama dan etnis, maka di Indonesia, masyarakatnya tetap bersatu dan hidup aman karena Pancasila," kata anggota MPR Dapil Jawa Timur III (Bondowoso Situbondo Banyuwangi).

Lanjutnya, karena di dalam sila sila yang ada di Pancasila sudah mengatur kehidupan. Antara lain sila pertama `ketuhanan yang maha esa|. Artinya masyarakat menganut berbagai macam agama seperti Islam, Hindu, Budha, Kristen, Katolik, dan aliran kepercayaan yang saling menghormati satu sama lainnnya.

"Jadinya kehidupan agama di Indonesia aman. juga pada sila kedua, ketiga, keempat, dan kelima sudah mengaturnya. Sehingga Pancasila ini wajib dipahami dan diamalkan oleh masyarakat Indonesia," katanya.

Nasim mengatakan, pentingnya memahami dan mengamalkan Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945. Karena Empat Pilar itu yang mampu menjaga keutuhan bangsa ini, katanya. Contoh, di dalam bangsa ini terdapat ribuan suku, bahasa, serta etnis, namun mereka bisa bersatu dengan Bhinneka Tunggal Ika.

"Empat Pilar ini wajib dijaga," katanya.

Bahkan kemerdekaan Indonesia itu diperoleh dari perjuangan semua suku di Indonesia dalam melawan penjajahan.

"Termasuk peran santri dan pondok pesantren yang ikut berjuang merebut kemerdekaan," katanya.

Pengasuh ponpes Nurut Thalabah Kiai Asy'ari Fasya merasa bersyukur dan mengapresiasi kedatangan Anggota MPR Nasim Khan yang telah melakukan sosialisasi di ponpesnya.

"Yang datang ke ponpes ini adalah semua santri dari berbagai ponpes di Bondowoso. Setiap ponpes mengirimkan perwakilannya untuk ikut kegiatan sosialisasi MPR atau empat pilar ini," tutur kiai.

Keterangan foto: 1. Anggota Fraksi PKB MPR M Nasim Khan menyerahkan cenderamata kepada Ketua PCNU Bondowoso KH Abdul Qadir Syamsul Arifin dalam acara Sosialisasi MPR Empat Pilar di Pondok Pesantren Nuruth Thalabah Bondowoso.
2. Pengasuh ponpes Pondok Pesantren Nuruth Thalabah Bondowoso KH Asy'ari Fasya memberikan kata sambutan sebagai shohibul bait.

Teks: eko/kr/wab; harian cetak Radar Ijen Jawa Pos edisi Senin Kliwon 21 Maret 2016, halaman 4)
Foto: KHOLILUL ROHMAN AHMAD

PKB Siap Gelar Kaderisasi Tiap Kecamatan



Mabda' Siyasi PKB -- Instruktur DPP PKB Muh Arwani dan Ahmad Faiz mempresentasikan mabda' siyasi PKB. (foto: Kholilul Rohman Ahmad)


Bondowoso, -- Untuk memperkuat kader di tingkat daerah, DPP PKB, DPW, serta DPC terus melakukan konsolidasi agar PKB menjadi kuat. Serta memiliki kader yang militan dan mampu menjadi partai pemenang di pemilu yang akan datang.

Untuk itu Fraksi PKB DPR RI menggelar seminar kebangsaan ditujukan memperkuat kader melalui pendidikan kader pertama (PKP) di pondok pesantren Nurut Thalabah, Bunder, Pancuran, Bondowoso, kemarin (20/3).

Pengasuh ponpes KH Asy’ari Fasya yang juga rais syuriah PCNU Bondowoso menegaskan kebanggaannya dipercaya sebagai tempat untuk berdiskusi tentang masa depan PKB demi kemajuan bangsa.

“Kami berterima kasih telah mendapatkan kepercayaan dari sahabat-sahabat saya, Mas Nasim Khan anggota DPR dan sahabat PKB untuk dijadikan tempat ini sebagai ajang berdiskusi tentang bangsa. Sebagai pribadi dan pengasuh pondok pesantren sekali lagi saya ucapkan terima kasih,” katanya.
Hadir dalam kesempatan itu 60 kader PKB muda untuk mengikuti PKP. Selain itu, hadir pula Ketua PCNU Bondowoso KH Abdul Qadir Syamsul Arifin, Muh Arwani, Ahmad Faiz dari DPP PKB dan Ali Mansur dari DPC PKB.

Nasim Khan anggota DPR yang menjadi pembicara didampingi Aurangzeb Khan dan Zubaidi Habibullah, menjelaskan, tentang dasar-dasar politik pengorganisasian masyarakat.
"Selama ini untuk menjadi kader PKB cukup dengan membuktikan KTA. Akan tetapi model tersebut akan diubah dengan cara kadet harus ikut proses kaderisasi melalui PKP, PKM, hingga PKA,” ujarnya.

Dengan digelar PKP tersebut menjadi bukti bahwa PKB gencar melakukan penguatan partai melalui sistem pengkaderan. Kegiatan kaderisasi dilakukan untuk memperkuat partai PKB menjadi partai modern dan memiliki kader militan berbasis kultur yang kuat.

Untuk bisa menjadi kader harus bisa membuktikan keikutsertaannya dalam proses kaderisasi. Tahapan-tahapan itu harus dilalui seorang calon kader hingga menjadi kader resmi.
"Tahapan PKP, PKM, dan PKA harus dilalui. Karena pelatihan ini memberikan pembekalan sekaligus pendidikan politik,” ungkap dia.

Menurut Nasim, untuk setiap pelatihan mendatangkan seratus kader dari setiap ranting. Mereka akan dibekali mengenai ilmu politik, cara mengorganisasikan partai, dan tujuan partai serta mabda' siyasi partai. Peserta pendidikan sebanyak seratus orang setiap pelatihan, lanjutnya, sehingga untuk delapan kali pelatihan akan tercetak 1.500 kader militan.

“Insya Allah kegiatan ini akan dilaksanakan di seluruh kecamatan agar peserta kader bisa merata setiap kecamatan," harap dia.

Dalam teori pengkaderan, menurutnya, target PKP adalah untuk mencetak kader-kader partai yang ideologis, militan, dan mampu menjembatani konstituen dengan partai serta mampu menggerakkan kekuatan partai dalam setiap kontestasi politik.

"Kami ingin menciptakan kader PKB yang memiliki kemampuan untuk menjadi jembatan antara konstituen dengan partai," imbuhnya.

Dikatakan, kegiatan PKP menjadi program utama DPP PKB yang sudah berjalan setahun terakhir ini. Sejak Sekretaris Jenderal DPP PKB dijabat Abdul Kadir Karding.

"PKP Ini program partai unggulan. Melalui pendidikan PKP ini PKB berkomitmen untuk memperkuat kaderisasi partai. Sehingga masyarakat memilih partai lebih didasarkan para petimbangan ideologis bukan kepentingan pragmatis semata," jelasnya.

  
Teks: MKL; harian cetak Memo-X, halaman 14, edisi Senin Kliwon, 21 Maret 2016). 


Instruktur DPW PKB Ali Mansur mendampingi peserta mendalami mateti RKTL. (Foto: Kholilul Rohman Ahmad)

Minggu, 20 Maret 2016

PKP Bondowoso Ditutup, Negara bukan Gerobag Bakso


 
DOA PENUTUP PKP PKB DI BONDOWOSO -- Anggota DPR MPR Ir M Nasim Khan, tenaga ahli anggota DPR Aurangzeb dan Zubaidi Habibullah, instruktur Muh Arwani, Instruktur Ahmad Fais, serta seluruh panitia pendukung acara PKP memanjatkan doa tanda acara telah selesai.


Jawa Timur-Bondowoso, - Ketua Bidang Kaderisasi DPC PKB Bondowoso Ali Mansur resmi menutup kegiatan PKP di Ponpes Nuruth-Thalabah, Bunder, Pancuran, Bondowoso, kemarin. Acara penutupan diwarnai aksi peserta PKP mencium tiga bendera: merah putih, Nahdlatul Ulama, dan PKB.

Diiringi nyanyian syair-syair `ilahilastu lil firdausi ahla` karya pujangga humoris jaman khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad (806-814 M), Abu Nuwas. Ikut hadir menyaksikan, Anggota DPR MPR Ir M Nasim Khan, tenaga ahli anggota DPR Aurangzeb dan Zubaidi Habibullah, instruktur Muh Arwani, Instruktur Ahmad Fais, serta seluruh panitia pendukung acara.

“Mencium bendera adalah simbol cinta tanah air dan cita-citanya,” kata Ahmad Fais.

PKP diselenggarakan DPC PKB Bondowoso sebagai ajang pelatihan dan pendidikan untuk memperkuat kader di basis konstituen. Bertujuan menyambungkan terus-menerus ikatan silaturahim PKB dan rakyat, khususnya warga nahdliyin.

“Tidak bisa kita kesampingkan fakta warga NU adalah kekuatan PKB. Di sini kita harus memperkuat dengan ideologi,” kata Arwani.

Negara bukan Gerobag Bakso

PKP atau Pendidikan Kader Pertama diselenggarakan PKB sebagai tindak lanjut atas keprihatinan fenomena “deparpolisasi” yang digulirkan sekelompok orang yang ingin mendegradasi eksistensi partai politik di Indonesia. Kelompok ini ingin Indonesia dikelola seperti mengelola gerobag warung bakso.

“PKB ini, kan, partai politik. PKB ingin Indonesia semakin kuat. Bermartabat sebagai bangsa dan negara. Tetap eksis di dunia. Deparpolisasi itu kan gerakan yang cita-citanya agar negara bisa diatur seperti gerobag bakso,” tutur Arwani.

Arwani mensinyalir, dewasa ini Indonesia menjadi incaran para pedagang-pedagang tingkat dunia karena banyak penduduknya dan sumberdaya alamnya. Mereka, katanya, ingin menjajakan ke mana-mana dengan tujuan mencari keuntungan semata. Agar tujuannya tercapai, partai politik dimandulkan terlebih dahulu.

“PKB harus membendung gerakan deparpolisasi itu. Dengan PKP ini kita ingin parpol jadi penyangga keutuhan NKRI dan cita-citanya,” pungkasnya.

PKP di Pesantren
Pelaksanaan PKP di pesantren dimaksudkan untuk mendekatkan cita-cita PKB dalam mewujudkan cita-cita pendiri bangsa agar keutuhan negara tetap terjaga sebab pesantren dalam sejarah menjadi penopang utama NKRI (Negara Kesatuan republik Indonesia).

Di Bondowoso, PKP dilaksanakan di Pesantren Bunder, asuhan KH Asy’ari Fasya. Selain karena mempunyai tempat pelaksanaan yang cukup representatif, pengasuhnya dikenal gigih berjuang mengelola pesantren untuk meningkatkan taraf pendidikan bagi putra-putri Bondowoso.
“Pesantren itu simbol penjaga NKRI,” kata Arwani.

(Teks dan foto: Kholilul Rohman Ahmad)

Selasa, 23 Februari 2016

Batik Hijau Nasim Khan

M NASIM KHAN, Anggota DPR RI Fraksi PKB Dapil Jawa Timur III (Situbondo, Banyuwangi, Bondowoso). 


--Ini kisah perjalananku hari ini. Alhamdulillah, rasa bahagia hadir karena semua agenda berjalan lancar. Meski begitu, kelancarannya tidak seperti lancarnya Tol Dalam Kota di sore hari: lancar merayap, Bro! Buktinya Dik Ical tadi ketemu di lift bilang: “Ini wajah Kang Maman kelihatannya kok kurang bahagia?” Ah, itu perasaanmu saja, Cal. Batinku.

Kisah ini kuawali dengan fans page Mario Teguh di Facebook sudah tembus angka 18.126.362 like. Sementara Batik Indonesia baru mencapai 4.381.603 like. Padahal jika dihitung dari angka penjualan baju #batik sejak lahir #Facebook, diduga telah mencapai angka 40 juta potong lebih. Belum hitungan penjualan #sarung batik, celana batik, jilbab batik, #blangkon batik, hingga sempak batik. He hoo…

Akan tetapi mengapa fans page Batik Indonesia like-nya tidak ada separonya fans page Mario Teguh? Hmmmm..... Saya sudah mencoba berpikir keras mencari jawabnya. Namun sayang terbentur kuatir akibat keras memikirkannya justru berbuntut runtuh rasa bahagia di petang ini. 

Saat kupahat artikel ini ditemani suara Raisa melengking lembut di speaker aktif di kanan kiri laptop. Kutengok Raisa "Terjebak Nostalgia" di Youtube telah mencapai view 5.864.077. Bukan angka istimewa dibandingkan Zaskia Gotik “Tarik Selimut” dengan angka view 8.320.456. Eit, eit, nanti dulu. Raisa dengan “Jatuh Hati”-nya nyaris menyodok Zaskia dengan angka 7.887.525 view.

Lalu apa makna angka-angka view itu? Saya belum bisa membongkar rahasia di balik angka petang ini. Sebab ada unsur rumit dalam upaya membongkarnya sehingga perlu waktu cukup. Kalo cuma bongkar ala otak-atik gathuk, ya gampang lah.

Tapi baiklah. Ini sekelumit uraian terhadap angka-angka itu. Ada baiknya kita perlu dicoba utak-atik agar tidak menjadi seperti bisul nongkrong di bokong tapi ngilunya di ujung selangkangan (mlanjer, Jawa).

Jadi angka Mario, Batik, Raisa, dan Zaskia mampu bergulir pasti menanjak akibat perkomplotan antar kebudayaan, ekonomi, sosial, dan politik. Uniknya komplotan itu bermuara pada 'suka' atau 'like'. Anehnya, mereka yg klik `suka` atau klik `like` itu apakah beneran suka atau beneran like? 

Fakta membuktikan, jempol reflek klik suka karena akun Mario, Batik, Raisa, dan Zaskia lebih sering nongol di time line (TL) paling atas. Mengapa mereka mudah muncul di TL? Jawabnya tidak cukup satu matakuliah, Cung.

Jika itu ditarik garis lurus pada cermin Michael Laffan dalam Sejarah Islam di Nusantara (Bentang, 2015), kira-kira, seperti sejarah Islam yang telah berada di Nusantara dalam waktu relatif lama, semata bertahan karena berkomplot dengan budaya dan kawan-kawannya: ya ekonomi, politik, sosial. Padahal Islam bukan dari Indonesia. Mengapa justru mudah menggelembungkan pemeluknya di sini? Jawabnya tidak cukup satu matakuliah, Le.

Kira-kira begitu. Lantas, apakah angka view di Youtube itu bisa ditarik menjadi suara PKB pada pemilu mendatang? Duh. Pikiranmu mbok diajak piknik dulu, Su! Jangan terburu soal pemilu. Prosesnya harus dilalui dengan perhitungan, matang, dan lantang. Heho huhi hezzeee....

Batik Hijau Nasim Khan
Akhirnya, kisah ini wajib kuakhiri tentang baju batik hijau Bang Nasim. Bahwa siang tadi baru kutemukan bahagia lain saat bersalaman dengan Bang Nasim. Ya salamannya, sih, biasa. Tangan ketemu tangan lalu saling senyum. Itu saja, tidak lebih.

Hari ini ia pakai batik warna hijau. Tidak semua ijo warna di baju katun itu. Ntar dikira klambu keranda. Ya ada unsur abu-abu, kuning, putih, dan krem. Tampaknya baju batik ia pakai tidak seperti biasa. Mungkin karena ada agenda Rapat Paripurna DPR sehingga Bang Nasim sengaja pakai batik hijau.

Iya, M Nasim Khan, demikian nama lengkapnya. Hadir di Senayan, Jakarta (23/2) pakai batik hijau sebagai ungkapan tanggungjawab terhadap Daerah Pemilihan Jawa Timur III (Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi). Mengapa hijau? Karena warna partai PKB-nya hijau. Tul gak?

“Kok, buru-buru pulang, Pak?”, tanyaku saat ia mau pulang sebelum maghrib. Tidak seperti biasanya.

“Ada konsinyering di Cikarang, Mas. Keburu kena macet,” jawab singkat lantas salam meninggalkanku sendiri di ruangan kerja. Salam bahagia.*


--kholilul rohman ahmad

Kamis, 18 Februari 2016

Perjumpaan tidak Biasa, Gus Tutut dan Nasim Khan

FRAKSI PKB DI DPR KOMISI VI: H Yaqut Cholil Qoumas dan M Nasim Khan.


JAKARTA -- Perjumpaan Gus Tutut dan Bang Nasim bersifat seperti tidak biasa --mau kusebut istimewa kok kayaknya lebay gitu. Peristiwa ini terjadi di ruang kerja Bang Nasim, lantai 14 Gedung DPR, Senayan, Jakarta, pekan lalu (10/02). Perjumpaan itu dilanjut bincang ringan tentang pergulatan para Anggota DPR lintas fraksi di Komisi VI. Kudengar mereka berdua berbisik dan sepakat mengikuti air mengalir. Lho, memangnya, ada isu panas apa di Komisi VI DPR? Googling aja yaa…

Ikut air mengalir? Mau basah-basahan, kah? Mereka di DPR untuk rakyat. Bukan untuk basah-basahan. DPR itu bukan kolam renang, Bung! #PKBmembelaRakyat.

Sebelumnya, Gus Tutut duduk di Komisi III membidangi hukum dan kawan-kawannya. Terhitung sejak perjumpaan itu ia bergeser ke Komisi VI. Sementara Bang Nasim sejak awal pelantikan dipercaya ‘nongkrong’ di Komisi VI dan menjadi Kapoksi-nya hingga sekarang. Bersama tiga anggota FPKB lain (Erma Mukarromah, Eem Marhamah, dan Kholilurrohman) diberi amanat memperjuangkan rakyat melalui BUMN, Koperasi, KPPU, Badan Standarisasi Nasional, perindustrian, dan perdagangan yang menjadi bidang garap Komisi VI.

Ketua Banser dan Sekjend Majelis Pesona
Gus Tutut, panggilan ciamik H Yaqut Cholil Qoumas, baru saja didaulat kaum Ansor dan barisan Banser menjadi Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor periode 2015-2020 hasil Kongres XV di Yogyakarta. Namun di DPR mewakili rakyat Dapil Jawa Tengah X meliputi Pekalongan, Pemalang, Batang. Tentu saja di dapil Jateng X itu ada unsur Ansor, Banser, dan kawan-kawannya NU.

Bang Nasim, panggilan mesra istrinya kepada Ir M Nasim Khan, tak lepas sam'am wa tha'atan sebagai Sekretaris Jenderal Majelis pecinta Sholawat Nusantara (Majelis Pesona). Duduk di DPR karena menyunggi ribuan aspirasi rakyat Dapil Jawa Timur III meliputi Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi.

Wouwww, ribuan aspirasi? Jika rupa aspirasi itu kacang tanah bisa buat peyek, dong?

"Ini soal #amanat rakyat, Mas. Beliau dan para masayikh lah yang mengantar sampai di Senayan," katanya. "Beliau" adalah KH R Muhammad Cholil As'ad Syamsul Arifin. “Masyayikh” adalah kiai, ulama, dan guru ngaji yang setia merawat tradisi ngaji pondok pesantren dan majelis taklim.

Lalu, apa hasil bincang ringan mereka? Anda cari di #Google pasti tidak ketemu. Sumprit!



#loyalitasituada
#sinaudisiplin


[kra]

Senin, 07 September 2015

Nasim Khan: APBN 2016 Wajib Pro-Pondok Pesantren

NASIM KHAN SECOND CITY ASEMBAGUS - Anggota DPR Fraksi PKB, Ir M Nasim Khan, memberikan kata sambutan dalam peresmian Second City Asembagus, Situbondo (3/9/2015). Kehadirannya sebagai representasi Anggota Dewan asal Dapil Jawa Timur III meliputi Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi. "Situbondo satu-satunya Bumi Shalawat di Indonesia. Shalawat terus mengalun dari Situbondo, Indonesia selamat dari krisis," katanya. (FOTO: ISTIMEWA)

Jakarta, LaskarJagad - Di tengah pembahasan RAK/L APBN 2016, Anggota Komisi VI DPR Ir M Nasim Khan meminta pemerintah optimal membahas anggaran untuk program pemberdayaan pondok pesantren. Ketua Poksi VI Fraksi PKB ini juga minta agar pemerintah segera merealisasikan program pesantren untuk tahun 2015 ini.

"Saya mendapatkan laporan dari daerah bahwa ada beberapa program yang jelas untuk pesantren tapi tidak bisa cair. Alasannya macam-macam," kata Anggota Dewan Dapil Jatim III (Situbondo, Bondowo, banyuwangi) disela rapat internal Komisi VI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (7/9).

Menurutnya, pemberdayaan pondok pesantren dan santri-santrinya harus diutamakan mengingat fakta sejarah Indonesia eksis sampai sekarang berkat perjuangan para santri.

"Kita tidak mau pondok pesantren hanya disebut-sebut sebagai pejuang. Namun setelah merdeka jarang diajak berpartisipasi dalam pembangunan," katanya.

Dikatakan, sekarang ini adalah momentum yang tepat untuk menganggarkan dana APBN untuk pesantren.

"Saya sebagai Anggota Dewan harus mengingatkan pemerintah. Toh manfaat pesantren semakin nyata di mana-mana. Apalagi ponpes-ponpes sekarang makin kreatif dan mandiri. Kita harus dorong terus agar APBN betul-betul pro-pondok pesantren," kata Wakil Sekretaris Fraksi MPR RI ini.

Nasim mengingatkan agar pemerintah tidak lupa atas perjuangan pesantren, kiai, dan santri-santri dalam menjaga keutuhan NKRI.

"Sinergisitas kaum nasionalis dan santri bisa bersama menjaga Negara ini karena punya pesantren sebagai akar kekuatannya," pungkas Nasim sebagai Sekjend Majelis Shalawat Nusantara (Majelis Pesona).

Nasim adalah anggota DPR RI asal Daerah Pemilihan Jawa Timur III meliputi Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi. Ia lahir di Situbondo, Kota Bumi Shalawat. Kota ini mencatat sejarah Nahdlatul Ulama, yakni Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama (Munas NU) di Situbondo tahun 1983 memutuskan secara resmi NU memantapkan Pancasila sebagai asas organisasi. (kra)

Ayo daftar Jadi Jutawan