Tampilkan postingan dengan label bondowoso. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bondowoso. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 November 2016

Nasim Khan Kawal Pelatihan Bengkel di Bondowoso

Bondowoso, laskarjagad.net,- Anggota DPR MPR RI M Nasim Khan menghadiri pelatihan perbengkelan di Ijen view hotel, Bondowoso, 7/11. Acara yang selenggarakan Kementerian Perindustrian dan Dinas Koperasi, Perdagangan, dan Perindustrian Bondowoso ini diikuti oleh puluhan pemuda angkatan kerja asal kecamatan Botolinggo, Kabupaten Bondowoso.

Menurut Nasim Khan, program Kemenperin yang dilaksanakan ini langsung ditujukan ke masyarakat karena bernilai penting bagi pertumbuhan ekonomi rakyat.

"Mereka ini yang menjadi ujung tombak ekonomi rakyat. Sudah pada maqam-nya pemerintah membekali dengan ketrampilan tepat guna," katanya.

Menurut Nasim, wakil rakyat di Senayan sudah mengusulkan agar pemerintah selalu menganggarkan program untuk kegiatan yg lebih riil di masyarakat. 

"Ilmu perbengkelan lebih pas seiring makin banyak mesin di masyarakat. Baik mesin motor maupun mesin pertanian," imbuhnya.

Riefky Yuswandi, Kasubdit Program pengembangan IKM kima sandang aneka dan kerajinan, Kementerian Perindustrian, menjelaskan, program ini bisa berjalan karena dukungan pak Nasim Khan di DPR.

"Kami berharap program ini bisa berjalan tiap tahun di Bondowoso," katanya.

Acara tersebut juga dihadiri pejabat dinas perindustrian dan perdagangan kabupaten Situbondo. Di dalamnya dilaksanakan realisasi serah terima alat pengembangan industri sandang kepada kelompok masyarakat Raudlatul Adawiyah, Besuki, Bondowoso.

KRA



Senin, 21 Maret 2016

PKB Siap Gelar Kaderisasi Tiap Kecamatan



Mabda' Siyasi PKB -- Instruktur DPP PKB Muh Arwani dan Ahmad Faiz mempresentasikan mabda' siyasi PKB. (foto: Kholilul Rohman Ahmad)


Bondowoso, -- Untuk memperkuat kader di tingkat daerah, DPP PKB, DPW, serta DPC terus melakukan konsolidasi agar PKB menjadi kuat. Serta memiliki kader yang militan dan mampu menjadi partai pemenang di pemilu yang akan datang.

Untuk itu Fraksi PKB DPR RI menggelar seminar kebangsaan ditujukan memperkuat kader melalui pendidikan kader pertama (PKP) di pondok pesantren Nurut Thalabah, Bunder, Pancuran, Bondowoso, kemarin (20/3).

Pengasuh ponpes KH Asy’ari Fasya yang juga rais syuriah PCNU Bondowoso menegaskan kebanggaannya dipercaya sebagai tempat untuk berdiskusi tentang masa depan PKB demi kemajuan bangsa.

“Kami berterima kasih telah mendapatkan kepercayaan dari sahabat-sahabat saya, Mas Nasim Khan anggota DPR dan sahabat PKB untuk dijadikan tempat ini sebagai ajang berdiskusi tentang bangsa. Sebagai pribadi dan pengasuh pondok pesantren sekali lagi saya ucapkan terima kasih,” katanya.
Hadir dalam kesempatan itu 60 kader PKB muda untuk mengikuti PKP. Selain itu, hadir pula Ketua PCNU Bondowoso KH Abdul Qadir Syamsul Arifin, Muh Arwani, Ahmad Faiz dari DPP PKB dan Ali Mansur dari DPC PKB.

Nasim Khan anggota DPR yang menjadi pembicara didampingi Aurangzeb Khan dan Zubaidi Habibullah, menjelaskan, tentang dasar-dasar politik pengorganisasian masyarakat.
"Selama ini untuk menjadi kader PKB cukup dengan membuktikan KTA. Akan tetapi model tersebut akan diubah dengan cara kadet harus ikut proses kaderisasi melalui PKP, PKM, hingga PKA,” ujarnya.

Dengan digelar PKP tersebut menjadi bukti bahwa PKB gencar melakukan penguatan partai melalui sistem pengkaderan. Kegiatan kaderisasi dilakukan untuk memperkuat partai PKB menjadi partai modern dan memiliki kader militan berbasis kultur yang kuat.

Untuk bisa menjadi kader harus bisa membuktikan keikutsertaannya dalam proses kaderisasi. Tahapan-tahapan itu harus dilalui seorang calon kader hingga menjadi kader resmi.
"Tahapan PKP, PKM, dan PKA harus dilalui. Karena pelatihan ini memberikan pembekalan sekaligus pendidikan politik,” ungkap dia.

Menurut Nasim, untuk setiap pelatihan mendatangkan seratus kader dari setiap ranting. Mereka akan dibekali mengenai ilmu politik, cara mengorganisasikan partai, dan tujuan partai serta mabda' siyasi partai. Peserta pendidikan sebanyak seratus orang setiap pelatihan, lanjutnya, sehingga untuk delapan kali pelatihan akan tercetak 1.500 kader militan.

“Insya Allah kegiatan ini akan dilaksanakan di seluruh kecamatan agar peserta kader bisa merata setiap kecamatan," harap dia.

Dalam teori pengkaderan, menurutnya, target PKP adalah untuk mencetak kader-kader partai yang ideologis, militan, dan mampu menjembatani konstituen dengan partai serta mampu menggerakkan kekuatan partai dalam setiap kontestasi politik.

"Kami ingin menciptakan kader PKB yang memiliki kemampuan untuk menjadi jembatan antara konstituen dengan partai," imbuhnya.

Dikatakan, kegiatan PKP menjadi program utama DPP PKB yang sudah berjalan setahun terakhir ini. Sejak Sekretaris Jenderal DPP PKB dijabat Abdul Kadir Karding.

"PKP Ini program partai unggulan. Melalui pendidikan PKP ini PKB berkomitmen untuk memperkuat kaderisasi partai. Sehingga masyarakat memilih partai lebih didasarkan para petimbangan ideologis bukan kepentingan pragmatis semata," jelasnya.

  
Teks: MKL; harian cetak Memo-X, halaman 14, edisi Senin Kliwon, 21 Maret 2016). 


Instruktur DPW PKB Ali Mansur mendampingi peserta mendalami mateti RKTL. (Foto: Kholilul Rohman Ahmad)

Minggu, 20 Maret 2016

PKP Bondowoso Ditutup, Negara bukan Gerobag Bakso


 
DOA PENUTUP PKP PKB DI BONDOWOSO -- Anggota DPR MPR Ir M Nasim Khan, tenaga ahli anggota DPR Aurangzeb dan Zubaidi Habibullah, instruktur Muh Arwani, Instruktur Ahmad Fais, serta seluruh panitia pendukung acara PKP memanjatkan doa tanda acara telah selesai.


Jawa Timur-Bondowoso, - Ketua Bidang Kaderisasi DPC PKB Bondowoso Ali Mansur resmi menutup kegiatan PKP di Ponpes Nuruth-Thalabah, Bunder, Pancuran, Bondowoso, kemarin. Acara penutupan diwarnai aksi peserta PKP mencium tiga bendera: merah putih, Nahdlatul Ulama, dan PKB.

Diiringi nyanyian syair-syair `ilahilastu lil firdausi ahla` karya pujangga humoris jaman khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad (806-814 M), Abu Nuwas. Ikut hadir menyaksikan, Anggota DPR MPR Ir M Nasim Khan, tenaga ahli anggota DPR Aurangzeb dan Zubaidi Habibullah, instruktur Muh Arwani, Instruktur Ahmad Fais, serta seluruh panitia pendukung acara.

“Mencium bendera adalah simbol cinta tanah air dan cita-citanya,” kata Ahmad Fais.

PKP diselenggarakan DPC PKB Bondowoso sebagai ajang pelatihan dan pendidikan untuk memperkuat kader di basis konstituen. Bertujuan menyambungkan terus-menerus ikatan silaturahim PKB dan rakyat, khususnya warga nahdliyin.

“Tidak bisa kita kesampingkan fakta warga NU adalah kekuatan PKB. Di sini kita harus memperkuat dengan ideologi,” kata Arwani.

Negara bukan Gerobag Bakso

PKP atau Pendidikan Kader Pertama diselenggarakan PKB sebagai tindak lanjut atas keprihatinan fenomena “deparpolisasi” yang digulirkan sekelompok orang yang ingin mendegradasi eksistensi partai politik di Indonesia. Kelompok ini ingin Indonesia dikelola seperti mengelola gerobag warung bakso.

“PKB ini, kan, partai politik. PKB ingin Indonesia semakin kuat. Bermartabat sebagai bangsa dan negara. Tetap eksis di dunia. Deparpolisasi itu kan gerakan yang cita-citanya agar negara bisa diatur seperti gerobag bakso,” tutur Arwani.

Arwani mensinyalir, dewasa ini Indonesia menjadi incaran para pedagang-pedagang tingkat dunia karena banyak penduduknya dan sumberdaya alamnya. Mereka, katanya, ingin menjajakan ke mana-mana dengan tujuan mencari keuntungan semata. Agar tujuannya tercapai, partai politik dimandulkan terlebih dahulu.

“PKB harus membendung gerakan deparpolisasi itu. Dengan PKP ini kita ingin parpol jadi penyangga keutuhan NKRI dan cita-citanya,” pungkasnya.

PKP di Pesantren
Pelaksanaan PKP di pesantren dimaksudkan untuk mendekatkan cita-cita PKB dalam mewujudkan cita-cita pendiri bangsa agar keutuhan negara tetap terjaga sebab pesantren dalam sejarah menjadi penopang utama NKRI (Negara Kesatuan republik Indonesia).

Di Bondowoso, PKP dilaksanakan di Pesantren Bunder, asuhan KH Asy’ari Fasya. Selain karena mempunyai tempat pelaksanaan yang cukup representatif, pengasuhnya dikenal gigih berjuang mengelola pesantren untuk meningkatkan taraf pendidikan bagi putra-putri Bondowoso.
“Pesantren itu simbol penjaga NKRI,” kata Arwani.

(Teks dan foto: Kholilul Rohman Ahmad)

Ayo daftar Jadi Jutawan