Senin, 08 Agustus 2016

Nasim Khan Resahkan Industri Kerajinan Situbondo

Mimbaan, Situbondo,- Situasi ekonomi belum berangsur membaik masih dirasakan oleh kalangan usaha di #Situbondo. Pedagang kecil di pinggir jalan atau warung kaki lima bongkar pasang merasakan penurunan omset sejak dua tahun terakhir.

Hal ini, antara lain, dijumpai M Nasim Khan saat melakukan kunjungan kerja masa reses Anggota DPR di Sletreng, Kapongan, Situbondo.

Industri kerajinan kayu di Situbondo di lebih pahit merasakannya. Indikatornya, permintaan kirim barang ke Jakarta dan Bali tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.

Salah satu harapan untuk tetap bertahan industri ini adalah mengikuti kegiatan dari pameran ke pameran.

"Keramaian omset industri kerajinan dari Situbondo ditopang even. Selain itu belum bisa diharapkan," tutur M Reza Pahlevi, staf Dinas Koperasi dan UMKM Pemkab Situbondo, kemarin, (8/8).

Merasakan geliat ekonomi Situbondo yang mengendur, Nasim Khan menyatakan akan melaporkan ke Fraksi PKB DPR RI di Jakarta. Selain itu pihaknya akan membantu komunikasi ke Kementerian Koperasi UMKM RI untuk mempercepat realisasi program perkoperasian di daerah.

"Kebetulan saya diamanati duduk di komisi VI DPR. Insya Allah, program perkoperasian bisa membantu mendorongnya. Saya bisa langsung menyampaikan ke Pak Menteri," ujarnya.

Tampak dalam gambar, M Nasim Khan dan Reza (membelakangi kamera) berdialog serap aspirasi disaksikan sejumlah pengrajin dan pengusaha lokal Situbondo. (Teks dan foto: KHOLILUL ROHMAN AHMAD.

Kamis, 19 Mei 2016

Pesan Khataman Mujahadah di Radesa

KETUA UMUM DPP PKB ABDUL MUHAIMIN ISKANDAR DAN KH MUNIF ZUHRI GIRIKUSUMO MEMIMPIN MUJAHADAH DI KANTOR DPP PKB JLN RADEN SALEH, CIKINI, JAKARTA, 18/05/2016 MALAM. 

Tadi malam (18/05/2016) saya berkesempatan hadir dalam malam doa rathibul ‘athas bertajuk Mujahadah Untuk Bangsa di Kantor DPP PKB, Jln Radesa, Jakarta. Acara rutin selapanan tiap Rabo Pon (malam) itu sebagai pungkasan mujahadah untuk tahun ini, ya semacam khataman akhirussannah ala pondok pesantren. Karena sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan. Acara doa dipimpin oleh KH Munif Zuhri Girikusumo dan dibuka oleh Ketua Umum Abdul Muhaimin Iskandar.

Dalam kata pembuka Cak Imin, panggilan akrabnya, mengingatkan kepada semua hadirin, umumnya kepada kader PKB di seluruh Indonesia bahwa Partai Golkar sudah menentukan ketua umumnya, yakni Setya Novanto.

Ya. Golkar memilih SN karena kaya raya. Golkar bisa menjadi pemenang kedua pada pemilu 2014 karena ditopang oleh sejumlah perangkat yang kuat, antara lain dana dan logistik yang nyaris tanpa batas dalam upaya menjemput suara sebanyak-banyaknya.

Cak Imin mengingatkan, PKB pada pemilu 2014 sudah membuktikan eksistensinya dengan sumberdaya `apa adanya` yang jauh dari Golkar. Bahkan kemampuan finansialnya jauh tidak sebanding dengan Golkar. Toh PKB bisa mengimbangi partai-partai yang berkantong tebal.

“Mengapa? Karena PKB masih setia pada gagasan, jiwa, dan hati,” katanya.

Gagasan itu antara lain, kata Cak Imin, pentingnya memperkokoh demokrasi dan NKRI, menjaga keberagaman dan toleransi, menghapus kekerasan dan kejahatan kemanusiaan, menekan terorisme dan radikalisme, dan teguh berjuang membumikan Islam agar bermanfaat untuk alam semesta (rahmatan lil ‘alamin).

Jiwa itu adalah PKB harus menjiwai apa yang diinginkan rakyat. Sudah tidak berlaku lagi partai bikin program yang egois, yang sesuai keinginan dirinya. Makanya ke depan program PKB ya harus ikuti kemauan rakyat. Maunya rakyat apa? Jadi, tepiskan segala ego para kader PKB. Sandarkan perjuangan hanya untuk membela rakyat.

Hati itu adalah harus mau merasakan apa yang dirasakan oleh rakyat. Baik senang atau susah, kader PKB harus peka. Sebab hanya dengan modal hati PKB semakin dicintai rakyat.

“Kita harus yakin, bahwa hanya dengan hati dan jiwa lah PKB akan semakin dicintai rakyat,” pesannya.

Trend di masa depan, pesannya, sudah tidak akan berlaku lagi membeli suara rakyat pada saat pemilu. Uang tidak akan bisa lagi laku untuk membeli suara. Sebab rakyat semakin cerdas menyikapi akal-akalan partai politik yang mengutamakan uang, sementara gagasannya kosong.

Saya merasakan, acara pungkasan doa mujahadah tadi malam itu Cak Imin menyampaikan sambutan sebagai ungkapan kegelisahan atas fenomena yang sedang terjadi pada bangsa ini. Kecenderungan politik yang mengarah pada perebutan kekuasaan tanpa memperhatikan aspek jiwa dan hati rakyat ditengarai akan membahayakan keadaan bangsa Indonesia di masa depan.

Saya setuju banget dengan gagasan cak imin tadi malam. Sikap setuju dalam pengertian bahwa bangsa ini membutuhkan langkah-langkah politik yang penuh penjiwaaan dan perasaan (hati). Bahwa hakekat politik adalah untuk kemaslahatan umat. Bahwa ulama salaf telah berpesan tasharraful imam ‘ala raiyyah manutun bil maslahah, setiap tindakan pemimpin terhadap rakyatnya harus dikaitkan dengan kemaslahatan. Itu yang pertama.

Kedua, bahwa keberhasilan berjuang bermodal jiwa dan hati bukan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan secara bersama melalui partai (organisasi). Gerakan bersama (kerelawanan) tanpa uang telah berhasil dilaksanakan dalam tajuk Nusantara Mengaji (7-8 Mei 2016) yang mampu menggerakkan lebih dari 3.240.000 warga Muslim Indonesia dalam satu waktu.

Ketiga, pesan Cak Imin tadi malam sekaligus bermakna refleksi bersama atas perjalanan PKB selama ini. Bahwa PKB sebagai bagian tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia harus lebih berani lagi dalam kreatifitas politik. Antara lain, berkreasi dalam mempertahankan dan meningkatkan eksistensi NKRI dalam percaturan global.

Keempat, saya merasakan pilihan-pilihan diksi Cak Imin dalam sambutan tadi malam mengandung pesan-pesan Mukernas berjudul Holopis Kuntul Baris: Menangkan Rakyat dalam Persaingan Global (6 Februari 2016). Semangat PKB untuk berani istiqamah mengawal gagasan yang pernah digaungkan sebelumnya adalah kreatifitas yang harus diteguhi PKB. (KHOLILUL ROHMAN AHMAD)









Senin, 02 Mei 2016

Pendidikan Kader PKB di Ujung Timur Jawa

INSTRUKTUR DPW PKB JAWA TIMUR -- Peserta pendidikan kader pertama (PKP) PKB di Banyuwangi menyimak pemaparan Instruktur narasumber Siti Nafsiyah dari DPW PKB, kemarin (2/5).

Banyuwangi - Dalam rangka meningkatkan kapasitas kader dan upgrading pengurus baru, Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Banyuwangi menggelar Pelatihan Kader Pertama di aula Pondok Pesantren Nurut Taqwa, Dusun Cemoro, Desa Balak, Kecamatan Songgon, kemarin (2/5).

Peserta yang mengikuti pelatihan itu perwakilan dari pengurus anak cabang (PAC) PKB dan Ranting PKB di tiga kecamatan daerah pemilihan (Dapil) II Banyuwangi, yakni Kecamatan Songgon, Singojuruh, dan Rogojampi. Acara dibuka oleh Ketua DPC PKB Banyuwangi, HM Joni Subagio.

Dalam pelatihan pertama kader itu, DPC PKB Banyuwangi menghadirkan narasumber Badrul Munir dari DPP PKB, dan Siti Nafsiyah dari DPW PKB Jawa Timur. Pada pelatihan itu, para kader diingatkan pentingnya peran PKB dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

“Kader PKB harus selalu hadir di tengah umat, peduli dan ikhlas dalam membantu umat,” cetus ketua DPC PKB Banyuwangi, HM. Joni Subagio saat membuka acara itu.

Dengan kepengurusan baru, kata Joni Subagio, saat ini DPC PKB Banyuwangi menata langkah untuk terus lebih maju, di antaranya mengadakan kegiatan pelatihan bagi kader. Itu untuk meningkatkan militansi dan loyalitas terhadap partai. Dan yang terpenting, mampu memahami prinsip-prinsip perjuangan PKB.

"Semoga dengan pelatihan ini pada Pemilu 2019 PKB Banyuwangi mampu kembali pada masa kejayaan seperti tahun 2004 dengan perolehan 17 kursi di DPRD Banyuwangi,” harapnya.

Pendidikan kader pertama itu, jenjang pelatihan sebagai syarat kader untuk bisa menduduki kepengurusan di tingkat PAC dan Ranting. Pelatihan kader pertama itu, ditutup dengan prosesi pembaiatan yang dipandu oleh Sekretaris DPC PKB Banyuwangi, Muhammad Ali Mahrus, didampingi Anggota DPR RI Dapil Jawa Timur III, Ir. M. Nasim Khan.

Teks dan foto: KHOLILUL ROHMAN AHMAD

Minggu, 01 Mei 2016

Nasim Khan: Pancasila Itu Ideologi Kaum Santri

CENDERAMATA RAHMATAN LIL ALAMIN -- Anggota MPR RI dari Fraksi PKB, Ir M Nasim Khan, menyerahkan cenderamata rahmatan lil alamin kepada ketua DPC PKB Banyuwangi H Joni Subagyo saat melakukan sosialisasi empat pilar kebangsaan di Ponpes. Nurut Taqwa, Dusun Cemoro, Desa Balak, Kecamatan Songgon. Dari kiri ke kanan: Muhammad Ali Mahrus (Sekretaris DPC Banyuwangi), H Joni Subagyo (Ketua DPC), Ir M Nasim Khan, Pak Agung (MWC NU Songgon), dan Badrul Munir (DPP PKB). Teks dan foto: KHOLILUL ROHMAN AHMAD

Banyuwangi, SONGGON - Anggota MPR RI dari Fraksi PKB, Ir M Nasim Khan, melakukan kegiatan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD NRI 1945, di hadapan ratusan santri, guru Ponpes Nurut Taqwa, kader dan simpatisan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Aula Pondok Pesantren (ponpes) Nurut Taqwa, Dusun Cemoro, Desa Balak, Kecamatan Songgon, kemarin (1/5)

Di hadapan para santri, pengurus, dan pengasuh ponpes Nurut Taqwa itu, Nasim mengatakan pentingnya para santri serta ponpes menjaga dan mengamalkan empat pilar PBNU, yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD NRI 1945.

“Karena menjaga dan mengamalkan PBNU maka negara akan aman dan tetap utuh," katanya disambut tepuk tangan hadirin.

Nasim menjelaskan, kedatangannya ke Banyuwangi khususnya di Ponpes Nurut Taqwa adalah untuk mensosialisasikan PBNU. Sebab dengan Pancasila, semua suku agama dan etnis bisa disatukan.
“Di Indonesia ini ada banyak suku agama dan ras. Namun tetap kokoh dan aman, karena masyarakatnya mengamalkan Pancasila. Apalagi Pancasila ini ideologinya kaum santri. Harus paham seutuhnya,” jelasnya.

Menurutnya, dasar negara Pancasila sudah final, dan sampai saat ini, dasar negara itu tetap relevan. Jika di lain negara terjadi konflik, itu karena perbedaan agama dan etnis. Maka di Indonesia, masyarakatnya tetap bersatu dan hidup aman karena Pancasila.

"Sehingga Pancasila ini wajib dipahami, dan diamalkan oleh masyarakat Indonesia. Sehingga tidak mudah terprovokasi dengan paham-paham yang mengarah adu domba dan radikalisme,” terang anggota MPR Dapil Jawa Timur III ini (Bondowoso Situbondo Banyuwangi).

Pengasuh Ponpes Nurut Taqwa, Mohammad Ali Mahrus merasa bersyukur dan mengapresiasi kedatangan Anggota MPR Nasim Khan yang telah melakukan sosialisasi di ponpesnya.

Acara tersebut juga dirangkai dengan pelatihan pendidikan kader yang diikuti oleh pengurus ranting di dapil dua Banyuwangi, meliputi Kecamatan Songgon, Rogojampi, dan Singojuruh. Hadir dalam acara ketua DPC PKB Banyuwangi H Joni Subagyo dan juga menyampaikan kata sambutan.

KETERANGAN FOTO: Anggota MPR RI dari Fraksi PKB, Ir M Nasim Khan, menyerahkan cenderamata rahmatan lil alamin kepada ketua DPC PKB Banyuwangi h Joni Subagyo saat melakukan sosialisasi empat pilar kebangsaan di Ponpes. Nurut Taqwa, Dusun Cemoro, Desa Balak, Kecamatan Songgon.
Dari kiri ke kanan: Muhammad Ali Mahrus (Sekretaris DPC Banyuwangi), H Joni Subagyo (Ketua DPC), Ir M Nasim Khan, Pak Agung (MWC NU Songgon), dan Badrul Munir (DPP PKB).
Teks dan foto: KHOLILUL ROHMAN AHMAD

Kamis, 07 April 2016

Zaskia Gotik, Pancasila, dan Melawan Pikiran Dangkal

PANCASILA HIDUP KITA – Fraksi PKB MPR RI menggelar sosialisasi Empat Pilar bertajuk `Pancasila Hidup Kita` di Gedung Nusantara 5, Senayan, Jakarta (7/4/2016). Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Fraksi PKB MPR, H Abdul Kadir Karding.

Misi utama acara ini mengajak kepada masyarakat untuk memahami dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagi kalangan artis alias pekerja seni.

Puluhan artis hadir dalam acara ini, antara lain Zaskia Gotik, Tomi Kurniawan, Dwi Andika, Eddies Adelia, Bedu, Irma Darmawangsa, Maghdalena dan lain-lain.

Abdul Kadir Karding mengatakan, sebagimana dilansir Kompas dot com, sangat penting bagi para pekerja seni untuk memahami nilai-nilai dan ideologi Pancasila.

Sebab, sebagai publik figur, mereka mempunyai akses yang luas terhadap media massa melebihi politisi dan pejabat publik.

"Kenapa tidak kita dorong mereka jadi duta Pancasila," ucap Karding.

Terkait kasus Zaskia Gotik sendiri, Karding menilai, tak tepat jika dibawa ke ranah hukum.

Apalagi, pernyataan Zaskia yang menyebut lambang kelima Pancasila sebagai bebek nungging itu dilontarkan karena ketidaktahuan.

"Apa benar itu dianggap kriminal? PKB tidak membela siapapun, tapi dalam kasus seperti itu kita pilih persuasif karena kita tak mungkin menyalahkan Zaskia sepenuhnya," kata dia.

Sebaliknya, Karding mendorong agar pemerintah terus memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia sehingga masyarakat bisa menempuh sekolah setinggi-tingginya.

Berdasarkan survei, kata dia, saat ini masih ada 43 persen masyarakat Indonesia yang tidak hafal Pancasila.

Apakah Partai Kebangkitan Bangsa melawan arus besar media yang lebih suka menyudutkan Zaskia?

Mungkin. Dengan alasan seorang berhak menilai orang lain hanya berdasar arus besar yang sedang menggelora yang kini jadi trend sehingga sulit ditampik.

Tradisi bersosialmedia di Indonesia condong cepat bertindak (menilai sesuatu) tanpa pendalaman berpikir adalah salah satu trend yang sedang dihadapi bangsa ini. Sampai kapan pikiran dangkal begini terus hinggap di kepala?

Keterangan foto: PANCASILA HIDUP KITA -- Dari kiri ke kanan: Abdul Kadir Karding, Krisna Mukti, M Lukman Edy, Syaiful Bahri Anshori, Sandy Nayoan, Anna Muawanah, M Nasim Khan (Dapil Jawa Timur III: Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi), dan Arzeti Bilbina.

[Teks & foto: KHOLILUL ROHMAN AHMAD]


Senin, 04 April 2016

PKB Yakin, Presiden Bijak Lakukan Resufle

PKB Yakin, Presiden Bijak Lakukan Resufle

JAKARTA – Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa, Abdul Kadir Karding mengatakan, partainya sangat yakin, Presiden Joko Widodo akan bersikap bijak dan arif dalam melakukan resufle kabinet.

“Kami yakin, hiruk pikuk pemberitaan media massa terkait resufle, tak akan mempengaruhi sikap dan pertimbangan Presiden,” kata Abdul Kadir di Jakarta, Senin, 4 April 2016.

“Kami juga yakin, dalam menjalankan hak prerogratifnya, dalam melakukan resufle, presiden tak akan terpengaruh dengan tekanan, paksaan dan intervensi dari pihak lain”.

Kadir mecermati ramainya isu resufle lebih karena beberapa elit yang ingin memaksakan kepentingannya,  sehingga membuat bising situasi politik nasional.

Bila tidak segera dihentikan, PKB khawatir para pembantu presiden terganggu konsentrasi kerjanya, sehingga mengganggu program pembangunan yang dicanangkan oleh presiden Joko Widodo.

Salah satunya, terkait program pembangunan desa, yang selama pemerintahan Presiden Joko Widodo, dianggap telah mulai menunjukan perkembangan yang baik.

Terkait dengan isu resufle pada Kementrian Desa PDT dan Transmigrasi yang marak diberitakan media, Abdul Kadir menyatakan, adalah hak prerogratif presiden.

Namun ia mengaku tahu jika selama ini Kemedes menjadi incaran dari banyak pihak termasuk dari partai politik. Hal itu bisa dilihat dari adanya upaya mendesak presiden untuk menganti Menteri Desa Marwan Jafar, dengan cara mengorganisir massa , membangun opini  dan sebagainya.

“Kami yakin presiden akan arif dan senantiasa menghargai PKB,” tandasnya. [*]

Sabtu, 02 April 2016

Zaman Rumit dan Keutamaan Membaca Kitab Kuning

Zaman Rumit dan Keutamaan Membaca Kitab Kuning

~~~Orang gemar membaca bukan saja bisa mengantar pembacanya ke ujung dunia, bahkan menginjak rembulan pun bukan hal mustahil: sudah terbukti.

Rembulan yang ditakuti karena bikin siang jadi gelap (gerhana), akhirnya bisa ditundukkan dengan diinjak permukaannya oleh kaki manusia. Membaca.

Ujung dunia (kutub Selatan dan Utara) yang nyaris tanpa kehidupan sebab super dingin, nyatanya bisa disinggahi: bacalah bahwa manusia butuh bukti kongkrit mengapa permukaan air laut cenderung naik. Membaca.

Salah dua contoh di atas menunjukkan aksi membaca adalah kebutuhan hidup, bukan gaya hidup. Membaca akan mengantar manusia ke jalan yang dicita citakan. Membantu mewujudkan angan angan jadi kenyataan secara kongkrit: Mulanya terbayang bisa tersayang karena membaca. Bahkan tercinta.

Sepertinya, membaca sebuah pekerjaan yang hanya cocok bagi mereka yang tidak sibuk alias pengangguran. Seolah olah, aktivitas yang layak disebut pekerjaan adalah yang mengharuskan badan `obah terus`: mloka-mlaku, mloya-mlayu, ngomyang-ngomyeng, mocal-macul, slitha-slithi, mutar-muter, monthak-manthuk, dan lain sebagainya.

Ini era yang ganas, rumit, dan njemplit. Nyaris njempalik. Banyak orang `umyeg midar-mider`. Saat ditanya apa maunya bingung tanpa jawaban. Padahal kitab kuning anggitan para intelektual terdahulu adalah sumber ilmu pengetahuan yang sungguh `jadug` hanya soal menyingkirkan era rumit.

Beruntung kita punya Sahabat baik, Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin). Mau mengingatkan kita betapa pentingnya kembali membaca kitab kuning. Bahkan rela menginisiasi sekaligus mempanitiai uji kecermatan membaca kitab kuning bagi generasi muda Indonesia.

Tidak tanggung kitab yang ditangkaskan, Ihya 'Ulumuddin karya pesohor Imam Al Ghazali (wafat tahun 505 Hijriyyah), lengkapnya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i. Filosof Persia itu dikenal sebagai Algazel di dunia Barat pada Abad Pertengahan. Nama Abu Hamid lekat karena salah seorang anaknya bernama Hamid. (KHOLILUL ROHMAN AHMAD)

Keterangan gambar: Lomba membaca #kitakuning babak penyisihan. Musabaqah Kitab Kuning di Pondok Pesantren Al Fadlu wal Fadhilah, Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, 2 April 2016 (Foto: Moch Yunus).

Ayo daftar Jadi Jutawan