Jumat, 30 Maret 2018

Jember dan Seminar Edukasi Finansial Teknologi

Ini era bisnis, Bung!

Bahwa bisnis online tidak melulu hanya e-commerce (toko online) atau situs portal berita. Ada sebuah industri baru bernama financial technology atau nama kerennya finTech.

Keberadaan FinTech bertujuan untuk membuat masyarakat lebih mudah mengakses produk-produk keuangan, mempermudah transaksi dan juga meningkatkan literasi keuangan. Perusahaan-perusahaan FinTech Indonesia didominasi oleh perusahaan startup dan berpotensi besar.

Kemarin, Kamis, saya mendapatkan kehormatan sebagai salah satu narasumber dalam acara seminar bertajuk Finansial Teknologi di Universitas Muhammadiyah Jember.

Kehadiran saya mewakili Anggota DPR Komisi VI (Dapil Jawa Timur III), Bapak M Nasim Khan yang berhalangan hadir karena ada acara di Jakarta. Pak Nasim memberi kesempatan kepada saya untuk mewakilinya.

Sungguh, saya belum tahu detail tentang apa itu financial teknologi, sehingga yang saya presentasikan adalah tentang kewirausahaannya, kebetulan di DPR sedang digodok RUU Kewirausahaan Nasional dimana Pak Nasim menjadi salah satu anggota Panitia Khususnya.

Saya hadir dalam acara itu lebih banyak belajar dan memperdalam untuk mengetahui apa itu finansial teknologi, apa lagi background keilmuan saya bukan ekonomi, bukan keuangan, apalagi bisnis to bisnis yang berhubungan dengan uang.

Dari acara itu saya menjadi sadar bahwa selama ini selalu berhubungan dengan uang. Akan tetapi tidak memahami detail-detail tentang uang. Sungguh kita selama ini baru sebatas mengetahui uang pada permukaannya saja. Mungkin saja bangsa Indonesia pd umumnya baru tahu uang adalah angka yg tertera di atas koin atau kertas. Padahal di balik angka itu ada bisnis yg mahadahsyat.

Sesungguhnya uang melingkupi 1.000.000 dimensi yang bisa kita kelola utk kepentingan yg lebih luas dan tujuan sebaik-baiknya. Barangkali selama ini kita juga mengenal ttg kebebasan finansial. Akan tapi makna sejatinya tentang kebebasan finansial juga tidak tahu apalagi cara menggapainya.

Terima kasih kepada Pak rektor Unmuh Jember, Bu Dekan Fakultas Ekonomi Unmuh Jember, wabil khusus sahabat Rizki dan Pak Haris yang telah mempercayakan utk bersilaturahim dengan banyak kolega-kolega penting di Jember dan Malaysia.

Bismillah, Semoga acara ini punya keberlanjutan yang lebih signifikan untuk kebebasan finansial yang sejati di masa depan bagi bangsa Indonesia. Terima kasih. Alfatihah....

Selasa, 20 Maret 2018

Nasim Khan: Pancasila Bersinergi Kebangkitan Desa dan Kemakmuran Bangsa

SITUBONDO, Jawa Timur - Kemajuan negara akan tampak jika desa sudah maju, makmur dan sejahtera. Karena para pelaku desa merupakan ujung tombak segala hal dalam rangka menopang pembangunan nasional. 

Hal tersebut disampaikan oleh Anggota DPR/MPR RI Fraksi PKB, Ir HM Nasim Khan, saat menjadi keynote speaker Sosialisasi 4 pilar yang digelar di Aula Kelurahan Mimbaan Kecamatan Panji Kabupaten Situbondo, Jumat (16/3/2018).

Acara tersebut dihadiri sejumlah kepala desa se- Kabupaten Situbondo, Perangkat Desa, tokoh agama, tokoh pemuda, dan ratusan masyarakat dari berbagai elemen.

Pada kesempatan tersebut, Nasim menyatakan pentingnya menjaga kedaulatan NKRI melalui peran masyarakat khususnya yang ada di desa. Karena masyarakat desa, menurutnya, masih kental dengan budaya saling gotong royong sehingga akan terjaga kuat  persatuan dan kesatuannya.

"Nilai nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45 (PBNU) harus tertanam sungguh pada masyarakat desa sebagai pondasi negara, " katanya. 

Ia juga menambahkan pentingnya cerdas bermedia dan menangkal fitnah dan hoaks di karena fitnah dan hoaks itulah kebhinnekaan dan kedaulatan NKRI akan mudah dirongrong. 

"Kita sudah mengetahui, akhir akhir ini sudah banyak fitnah dan hoaks terhadap para ulama', hal ini kalau tidak bijak menangkap pemberitaan tersebut maka akan termakan dengan isu isu yang mengancam terhadap NKRI, " tambahnya. 

Oleh karena itu, legislator asal Kota Santri Bumi Shalawat Nariyah ini mengajak masyarakat untuk saling menguatkan diri dengan pemahaman 4 pilar kebangsaan.

Sebagai informasi, program sosialisasi empat pilar kebangsaan merupakan program MPR RI, sesuai amanat pasal 5 UU No 17 tahun 2014 dan UU No 42 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRS. 

Tujuannya, memberikan pembelajaran kepada masyarakat tentang empat pilar kebangsaan, termasuk pemahaman Pancasila dan UUD 1945. (KHOLILUL ROHMAN AHMAD)

Caption foto: Anggota DPR/MPR RI dari PKB Ir HM Nasim Khan saat memberikan cenderamata kepada peserta Sosialisasi 4 pilar kebangsaan di Aula Kelurahan Mimbaan Kecamatan Panji, Situbondo, Jumat (16/3/2018). Foto: DEDY DARMANTO

Sabtu, 03 Maret 2018

Politik Baliho dan Semantikal Cak Imin

Politik Baliho dan Semantikal Cak Imin


Oleh Agus Hernawan

Di Rakernas IV dan HUT ke-6 NasDem,  Surya Paloh mendeklarasikan Jokowi sebagai capres 2019. Setelah itu, berturut-turut Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Golkar, Partai Persatuan Pembangunan, Hanura, Perindo, dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) mendeklarasikan mantan Walikota Solo ini. 

Belum lama, Rakernas III PDIP merekomendasi Jokowi sebagai capres 2019.

Siapa wakil Jokowi, masih tanda tanya. Juga ada yang jadi tanda tanya lain di publik. Mengapa PKB masih diam?

Politik Baliho
Baliho Cak Imim Cawapres 2019 bertebaran di ruang-ruang publik se-Republik. Secara visual, baliho Cak Imin menjawab pertanyaan di atas (“Mengapa PKB masih diam?”). Politik baliho ini juga jadi pesan verbal ke Jokowi.

Pesan yang sama juga dikirim ke Tengku Umar. “Jika belum paham mau ane, baca baliho saja!”
Lewat politik baliho, PKB tengah memainkan positioning. Posisi historis PKB di Pilpres 2014 sangat jelas. 

Selain memberi warna hijau di kubu Jokowi-JK yang mayoritas diisi partai nasionalis, PKB berperan memenangkan Jokowi-JK di Pulau Jawa, khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur serta D.I Yogyakarta.

Tandem PDIP-PKB di Pilpres 2014 lumayan sukses menyatukan santri-abangan, nahdiyin-marhaen. Apa yang tak bisa dilakukan PPP di kubu Prabowo-Hatta, termasuk PAN di D.I Yogyakarta.

Dilihat dari sisi political marketing, strategi canvassing lewat baliho langsung menohok banyak hal.

Pertama, ia coba memagari “rumah” yang jadi basis pendukung tradisional PKB dari dikuasai tamu politik musiman.

Kedua, ia menegaskan maunya PKB. Posisi lima besar perolehan suara di 2014 dengan mengantongi 9,04 persen kursi di DPR jelas modal politik yang cukup buat PKB. Kursi cawapres bisa dianggap realistik.

Ketiga, melalui politik baliho, target realistik itu di-direct selling ke dalam ruang-ruang kesadaran pemilih.

Menarik ialah simultanitas atau keserentakan baliho Cak Imin. Ini membuat cara komunikasi politik yang konvensional jadi unik dan nakal. Publik dibuat terpengarah. Seperti kisah Bandung Bondowoso membangun candi dalam semalam. Alhasil, keunikan dan kenakalan itu segera ditransfer ke dunia daring. Memiral lewat kicauan di group-group WhatsApp.

Agaknya, Jokowi dan partai pendukungnya perlu  berhitung.  Dan, ini bisa jadi dilematis. Di satu sisi, PKB sudah mematok harga untuk mengantarkan Jokowi ke tujuan dua periode. Di sisi yang lain, meniadakan PKB jelas akan menyisakan ruang kosong yang sulit tergantikan.

Semantikal Cak Imin
Pertanyaan berikutnya, ke mana PKB sekiranya tidak di gerbong Jokowi pada Pilpres besok?
Pascapolitik baliho, muncul berita rencana pertemuan Prabowo Subianto dengan Muhaimin Iskandar (Cak Imim). 

Apakah pertemuan itu cuma membahas soal Pilgub Jateng sebagaimana diberitakan? Tentu tidak. Koalisi PKB dengan Gerindra memenuhi syarat Presidential Threshold.

“Jika Prabowo Subianto dan Cak Imin dipasangkan sebagai capres-cawapres pada Pilpres 2019 mendatang, niscaya pasangan ini akan bisa secara bulat merebut suara di Pulau Jawa.” Pernyataan Arief Poyuono, Wakil Ketua Umum DPP Gerindra, mempertegas jawaban pertanyaan di atas.

Sekiranya PKB bertemu Gerindra, diikuti lahirnya koalisi Demokrat-PAN-PKS, Pilpres 2019 bisa saja diramaikan tiga pasang kandidat. Tiga pasang kandidat lebih menyegarkan. Broad-based participation minimal tidak begitu tajam terpolarisasi. Namun, bagi kubu Jokowi, kontestasi dengan tiga pasangan kandidat  lebih menguras energi. Atau, malah jadi boomerang.

Pilgub DKI kemarin sudah mengajarkan prestasi kepemimpinan, ditambah kegaharan kicau di dunia daring, belum cukup. Perlu nyali bertarung dan berbecek-becek di basis riil, terutama untuk memenangkan Pulau Jawa. Kehadiran partai baru (PSI dan Perindo) di kubu Jokowi tidak cukup sebagai katub penyelamat.

Lewat simultanitas politik baliho,  PKB menunjukkan mereka punya militansi itu. 
Hal senada jika Pilpres jadi gelaran tarung ulang Jokowi versus Prabowo. Pernyataan Arief Poyuono bisa terbukti. Penguasa basis di Jawa Barat dan Jawa Timur dengan broad-based participation terbesar pertama dan kedua di Indonesia adalah Gerindra dan PKB. Di Jawa Tengah, pada Pileg 2014, perolehan suara PKB urutan ketiga setelah PDIP dan Golkar. Perolehan suara PKB hanya selisih tipis dengan Golkar, (Golkar: 2.497.282 suara,
PKB: 2.305.444 suara).

Untuk Jawa Tengah, faktor kepemimpinan Ganjar yang dinilai mengecewakan dapat jadi deposit negatif secara politik ke depan. Di kasus Semen VS Samin misalnya, Ganjar justru membuat blunder. Ia menertawakan aksi semen kaki petani yang dimotori kalangan Samin. Sebaliknya, PKB dan Gerindra menunjukkan sikap responsif. Implikasi jangka pendek ialah Pilgub Jawa Tengah 2018 nanti. Koalisi PKB-Gerindra-PKS-PAN punya peluang besar memenangkan Jawa Tengah. 

Di tengah menguatanya populisme agama, diperparah kegagalan KPU mendorong kontestasi elektoral kita menjadi apa yang disebut Sherry A. Arnstein sebagai cornerstone of democracy, posisi Cak Imin dan PKB menjadi sangat penting. Mengabaikan Cak Imin dan PKB bisa berarti “bunuh diri” bagi Jokowi.

Nah, selamat berhitung Pakde. Dan, segera kita bikin baliho.

Minggu, 25 Februari 2018

Nasim Khan: Situbondo Banyak Tumbuh UMKM Ekonomi Kreatif

Serap aspirasi di Kabupaten #Situbondo oleh Anggota DPR RI FPKB Insinyur Haji Muhammad Nasim Khan, Dapil Jawa Timur 3. Kegiatan serap aspirasi ini diselenggarakan di Jalan Mawar Desa Kelurahan Patokan Kabupaten Situbondo, dengan tema menumbuhkembangkan wirausaha atau UMKM.

Di Situbondo ini banyak tumbuh usaha kecil usaha kecil yang berbasis ekonomi kreatif yang membutuhkan pendampingan dan perlindungan secara permodalan maupun pemasaran. Dialog diselenggarakan secara tanya jawab dan juga melibatkan pegawai Dinas Koperasi dan UMKM Situbondo, Mas Reza.

Menurut Bang Nasim, wirausahawan wirausahawan muda mutlak harus terus ditambah untuk membangkitkan perekonomian Indonesia secara nasional. Merupakan bagian dari program pemerintah untuk jangka panjang. Demikian laporan reses Anggota DPR dari Situbondo.

(Kholilul Rohman Ahmad)

Jumat, 23 Februari 2018

Di Bondowoso, Aksi Penggerak Sholawat Dukung Cak Imin Cawapres

Maesan, Bondowoso -- Puluhan pendukung Cak Imin (Muhaimin Iskandar) sebagai Calon Wakil Presiden 2019 melakukan aksi dukungan dengan Long March sambil mengucapkan Shalawat Badar, 24/2/2018. Mereka tergabung dalam kelompok Komunitas Penggerak Budaya Sholawat Bondowoso.

Koordinator aksi, Mursyid, mengatakan bahwa warga Bondowoso mendukung sepenuhnya kepada Cak Imin sebagai Cawapres 2019. Karena Cak Imin mewakili kalangan santri, muda, tegas  dan cerdas.

Menurut Mursyid, Cak Imin adalah tokoh muda yang dipandang akan mampu memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat Indonesia seluruhnya.

Dengan lantunan Sholawat Nariyah yang selalu dikumandangkan oleh Komunitas Penggerak Budaya Sholawat ini, mereka mendukung Cak Imin jadi cawapres semata-mata untuk kemaslahatan rakyat Indonesia.

"Cak Imin jadi Cawapres adalah pilihan utama kami," katanya.

Dari Bondowoso, menurut Mursyid, ingin menyuarakan dukungan agar diketahui oleh seluruh rakyat Indonesia bahwa Cak Imin merupakan Cawapres yang pantas bersanding dengan siapa pun calon presidennya.

"Kami orang-orang desa, Mas. Kami hanya bisa bershalawat. Bermodal sholawat ini kami ingin menunjukkan dukungan nyata bagi pemimpin Indonesia sejati, yaitu Cak Imin," teriaknya.

Aksi dilaksanakan di Jalan Raya Maesan yang merupakan jalur utama Bondowoso Jember. Puluhan orang aksi berjalan dengan memegang spanduk dukungan mereka kepada Cak Imin sambil melantunkan Sholawat Badar.

Beberapa pengendara memperlambat jalannya untuk melihat aksi mereka. Demikian pula banyak warga masyarakat di sekitar pinggir jalan ikut menyaksikan aksi dukungan untuk Cak Imin Cawapres 2009 ini. Dari Bondowoso Kholilul Rohman Ahmad melaporkan untuk Cak Imin for Cawapres 2018.*

Catatan Nasim Khan Komisi VI DPR Tinjau Proyek PMN Rp250M untuk Revitalisasi PG Asembagus

Pak Nasim Khan meninjau Pabrik Gula Asembagus dalam rangka mengecek pelaksanaan proyek revitalisasi pabrik gula tersebut utk meningkatkan kapasitas produksi dari 3000 tcd menjadi 6000 tcd. Proyek ini didanai oleh APBN melalui program Penyertaan Modal Negara atau PNM tahun 2016 sebesar Rp250 miliar.

Bang Nasim meninjau didampingi para staf NKI di Situbondo dalam rangka reses Anggota DPR tahun 2018.

Saat meninjau lokasi tersebut Pak Nasim disambut oleh Direktur PG Asembagus sekaligus bersama-sama melihat lokasi program revitalisasi tersebut. Terlihat di lokasi beberapa alat berat dan juga mesin-mesin yang sedang dirangkai.

Pak Nasim meminta agar pelaksanaan pekerjaan revitalisasi ini wajib sudah siap beroperasi pada bulan Juni 2018. Karena hal tersebut berkaitan dengan musim giling tahun ini yang mentargetkan 3000 kuintal tebu siap giling.

Kalau mesin tidak selesai sesuai jadwalnya dikhawatirkan penggilingan tebu terganggu. Ketika penggilingan tebu terganggu, maka penghasilan para petaninya pasti ikut terganggu. Ini menyangkut hajat hidup ratusan ribu petani tebu dan keluarganya. Mohon ini diperhatikan. 

Apalagi adanya PG Asembagus ini mempunyai efek ekonomi yang sangat tinggi. Begitu PG Asembagus lambat penggilingan tebunya, maka perekonomian di Situbondo dan sekitarnya juga akan ikut melambat.

Ini harus jadi perhatian kepada Direktur PTPN XI dan juga Direktur PG Asembagus. Saya berharap pekerjaan ini betul-betul diperhatikan.
Saya datang ke sini atas nama Wakil Rakyat di Daerah Pemilihan Jawa Timur 3 yang meliputi Situbondo.

Sebelum saya datang ke sini sudah berkoordinasi dengan Pak Bupati Situbondo. Beliau titip pesan agar penggilingan sebuah di musim tahun ini betul-betul bisa berjalan lancar.

Sebelum revitalisasi, karena kapasitas mesin giling yang terbatas, antrian truk pengangkut tebu sampai tiga hari.

Ke depannya saat mesin giling sudah jadi, an triannya bisa dipangkas tidak sampai 1 hari. Ini menyangkut perekonomian para petani dan masyarakat di Situbondo. Jadi proyek revitalisasi ini harus selesai Juni tahun ini.

Saya meninjau program proyek revitalisasi PG Asembagus ini juga akan menjadi bahan laporan saya di DPR Komisi VI saat Rapat Dengar Pendapat dengan para pemangku kebijakannya. Nanti juga akan menjadi bahan laporan saya di DPR ketika RDP dengan Menteri BUMN.*

Ditulis oleh: Kholilul Rohman Ahmad

Nasim Khan: UMKM Situbondo harus Bangkit

>>Desa Trigonco Kecamatan #Asembagus Kabupaten #Situbondo

Anggota Fraksi PKB DPR RI Insinyur Haji M Nasim Khan menghadiri acara Dialog Interaktif tentang "upaya menumbuhkembangkan ekonomi kreatif dan UMKM", 22 Februari 2018.

Acara diselenggarakan oleh para mahasiswa KKN kelompok 12 Universitas Muhammadiyah Jember di Desa Trigonco.

Bang Nasim, Anggota DPR Dapil Jawa Timur III- Situbondo Bondowoso Banyuwangi, dalam acara tersebut menyampaikan rasa terima kasih dan bahagia atas undangan kehormatan dari para mahasiswa KKN di Trigonco. Karena bisa bersilaturahim dan bertukar pikiran dengan para mahasiswa.

Bang Nasim merasa bahagia bahwa para mahasiswa adalah kaum muda generasi bangsa yang harus ikut memperhatikan ekonomi kreatif Umkm di Indonesia, khususnya di Situbondo.

Apalagi pihaknya juga diberi tanggungjawab untuk duduk di Komisi 6 DPR yang membidangi UMKM.

"Saya menyampaikan terima kasih saya ikut berbahagia bisa bersama-sama dengan para mahasiswa di forum ini," katanya.

Acara dihadiri dan diikuti para pemuda dan para pengusaha muda di lingkungan Asembagus. karena itu pihak penyelenggara mengundang Dinas Koperasi dan Umkm Kabupaten Situbondo, sebagai narasumber, yang dihadiri oleh Mas Reza dan Pak Gatot, Kabid di Dinas Koperasi Kabupaten Situbondo.

Menurut Bang Nasim, UMKM adalah salah satu tonggak untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Karena pergerakan UMKM yang kecil mudah tumbuh dan berkembang di masyarakat bawah. Apalagi UMKM itu saat ini mudah dikembangkan dan mudah memperoleh support permodalan dari pemerintah.

Sementara itu Pak Gatot mengatakan bahwa pemberdayaan dan peningkatan kualitas wirausahawan UMKM yang di bidani oleh pemerintah saat ini sering terbatas oleh minimnya anggaran.

"Oleh sebab itu semangat dan kerja keras dari pelaku UMKM menjadi tulang punggung bagi peningkatan ekonomi rakyat," katanya.

Dikatakan,  jadi dalam hal ini posisi pemerintah adalah sebagai fasilitator para pelaku UMKM sendiri itulah yang harus menentukan untuk bisa tumbuh dan berkembang dan bersaing dengan para penggerak UMKM-UMKM yang lain.

Bang Nasim mengatakan ide-ide kreatif merupakan salah satu faktor bagi tumbuhnya UMKM sekaligus mampu berdaya saing dengan pelaku UMKM UMKM di situbondo.

Situbondo punya banyak potensi yang bisa kita kembangkan. Kuncinya adalah bagaimana kita bisa mengolah potensi itu dengan ide-ide kreatif dan dipasarkan pada wilayah yang lebih luas. Di sinilah perlu ekonomi dan gagasan expansive ke daerah lain. Bila perlu diekspor ke negara lain.

Kehadiran Bang Nasim dalam acara tersebut berkaitan dengan kunjungan kerja reses di Situbondo sbg anggita DPR.

Hadir dalam acara tersebut para penggerak UMKM, para pemuda, dan para perangkat desa di lingkungan desa triGonco. Demikian laporan pandangan mata yang bisa kami sampaikan fotonya menyusul. (Kholilul Rohman Ahmad)

Keterangan foto:
Anggota DPR FPKB Ir HM NASIM KHAN menerima cenderamata dari A Rizal Ketua Mahasiswa KKN 12 Univ Muhammadiyah Jember di Aula Desa Trigonco,  Asembagus, Situbondo, 22 Februari 2018.



Ayo daftar Jadi Jutawan