Selasa, 19 Desember 2017

Haul Gus Dur 8, Doa Gus Dur

Haul Gus Dur ke-8

Gus Dur dan Wirid Robbanâ Âtinâ min Ladunka Rohmatan…

Pada tulisan sebelumnya, saya menceritakan tentang kisah wirid surat al-Fatihah 100 x. Pada tulisan kali ini, saya ingin menceritakan tentang Gus Dur dan kisah wirid Robbanâ âtinâ min ladunka rohmatan wahayyi’ lanâ min amrinâ rosyadâ. Wirid ini, saya dengarkan beberapa tahun lalu ketika saya silaturahmi ke sebuah pesantren, yang jumlah muridnya sedengan, sekitar 200-an (pada saat saya silaturahmi saat itu). Kyainya masih muda, dan pernah nyantri di pesantren besar di Jawa Timur.

Saat itu, saya dengan 2 orang kawan sedang mencari pesantren untuk dijadikan tempat pelatihan tentang Kitab Kuning dan Hak-Hak Bernegara. Sampailah kami di sebuah pesantren. Setelah assalâmu`alaikum dan babibu, saya menanyakan.

“Ini pesantrennya mantab kyai. Ngomong-ngomong gimana bisa mendirikan pesantren. Kyai pasti punya wirid yang mantab, pasti ini.”

Sang kyai muda, diam sesaat, tetapi kemudian berkata: “Kami selalu memudawamahkan Rotib al-Haddad, sebab kami dulu nyantri diberi ijazah Rotib ini, dan kami meneruskan bersama murid-murid di pesantren ini.”

Setelah itu kami membicarakan tentang Rotib al-Haddad, dan bagaimana efek-efek bagi yang mengamalkannya. Alhamdulillah, saya sendiri juga mengamalkan Rotib ini sudah lama, dan kemudian memperbarui ijazah Rotib ini kepada Habib Zen Magelang, dan kepada Kyai Asnawi, di kampung tempat kami tinggal. Rotib al-Haddad kemudian disempurnakan dengan Wirdul Latif.  Pembicaraan tentang Rotib dengan kyai muda ini, sampai jauh.

Karena jauh membicarakan Rotib al-Haddad, sampai kyai muda belum menjelaskan bagaimana sejarah pesantren ini dan berdirinya.

Saya kemudian menyela: “Kyai, ini berkah Rotib al-Haddad ya pesantren ini, apa masih ada yang lain.”

Kyai muda diam, dan kemudian bercerita:

“Begini Mas, kami di sini ini pendatang. Kanan dan kiri kami amalannya tidak sama dengan kami. Beberapa tahun saya mulai membuat rumah dan ingin mendirikan pesantren ini, seperti ada tembok karang yang menghadang. Banyak sekali tantangan, baik yang menyangkut pribadi ataupun kondisi masyarakat sekitar yang amalannya tidak sama dengan kami. Kami mencoba terus bertahan, dengan amalan-amalan wirid yang kami punya. Tapi ternyata kami dan istri, ada pada satu kondisi, di mana kami sudah tidak kuat lagi.”

Kyai muda melanjutkan: “Ada satu kondisi dimana saya menyimpulkan sudah tidak bisa diteruskan untuk tinggal di sini. Akan tetapi sebelum meninggalkan tempat ini, saya bermunajat dan memohon kepada Alloh untuk yang terbaik.”

Karena kyai muda cerita tentang sulitnya mendirikan pondok dan tinggal di tempatnya itu, saya diajak untuk berfikir sulitnya orang untuk berjuang, dan saya diajarkan untuk tidak berputus asa dan memohon pertolongan Alloh, terutama pada saat-saat genting. Saya diajarkan, inilah kehidupan riil di masyarakat. Ada yang tidak senang, mendukung, dan yang lain. Dalam kondisi begitu, kita betul-betul hajat dan memerlukan pertolongan Alloh, dan perlu memiliki amalan wirid yang mudawamah.

Kyai muda meneruskan:

“Sebelum saya memutuskan untuk pergi dari tempat ini, ternyata malamnya saya mimpi mas. Dan ini yang membuat saya seperti mendapat tenaga, kekuatan, dan keberanian kembali.”

“Dalam mimpi itu, tiba-tiba ada tamu datang ke rumah dengan mobil. Orang yang di dalam mobil itu turun dan mengetuk pintu. Saya kagetnya bukan main. Ternyata Gus Dur yang datang. Setelah kami duduk, lalu Gus Dur berbicara: “Menjadi kyai itu harus sabar, jangan berhenti berdoa kepada Alloh.” Sepertinya Gus Dur tahu apa yang sedang saya hadapi.

Lalu kyai muda diminta Gus Dur untuk berdoa dengan sebuah doa. Sebelum doa sempat dicatat. Tidak lama setelah itu, Gus Dur dipanggil orang dari mobil: “Dur cepet…,” mobil sambil jalan pelan, ternyata di mobil ada ibunya Gus Dur. Gus Dur kemudian keluar dan masuk mobil.

Kyai muda yang belum sempat mencatat doanya itu, kemudian ikut mengiringi Gus Dur masuk mobil, dan kemudian pergi.

Setelah terbangun, kyai muda sangat tersentak. Dan, kemudian hanya tafakkur terus menerus, karena belum sempat mencatat doanya. Tafakkur itu menghasilkan sebuah kesimpulan. “Saya harus pergi ke Ciganjur.” Saat itu Gus Dur masih hidup.

Kyai muda yang belum punya pesantren seperti sekarang ini, setelah itu musyawarah dengan istrinya ihwal mimpi itu, dan direstui untuk ke Ciganjur. Dengan bekal uang seadanya, kyai muda naik bis untuk bisa sampai ke Ciganjur. Sebelum ke Ciganjur, dia mampir kepada kenalan yang ada di dekat Ciganjur. Dan, ketika sudah sampai di Ciganjur, kyai muda di persilahkan masuk.

Kyai muda melanjutkan dan berkata kepada saya: “Ini mas, yang ketika di Ciganjur ini, saya benar-benar keluar keringat dingin.”

“Emang kenapa kyai?”

Saya sendiri teringat Ciganjur.  Saya ingat kami dulu beberapa kali ke rumah ini, ketika bersama-sama kawan Dari Wahid Institute, Mas Suaedy, Mas Rumadi, dan kawan-kawan lain setelah dari Bogor, dan melihat Gus Dur tidur di atas lantai. Harimau yang ada di luar rumah dan di taman di rumah Gus Dur di Ciganjur itu, selalu saya pandangi. Dan, sahabat kami, Yuni mengambil foto-foto jeprat-jepret di sekitar taman dan harimau itu. Harimau itu, apakah sekarang masih ada apa nggak, saya lama belum ke Ciganjur lagi.

Kyai muda meneruskan ceritanya. Ketika masuk, dan salam, lalu, kyai muda meberanikan diri untuk cerita mimpi yang dialaminya. Dan keperluannya datang untuk meminta ijazah doa yang belum sempat dicatat itu. Gus Dur mendengar itu sambil tersenyum-senyum. “Kamu catat ya, doa dibaca 100 x, Robbanâ âtinâ min ladunka rohmatan wahayyi’ lanâ min amrinâ rosyadâ. Wasilahnya ditambah kepada Sunan Ampel. Sudah itu aja.”

Kyai muda merasa senang sekali setelah memperoleh doa itu. Dan, ceritanya di Ciganjur ditutup sampai di sini, meskipun ada  tambahan cerita di sini. Doa itu akhirnya diwiridkan oleh kyai muda itu setiap hari.

Lalu saya bertanya: “Apa reaksi setelah membaca doa ini kyai.?”

Kyai muda menjawab: “Alhamdulillah, hati semakin tenang, kuat, dan selalu yaqin dengan Alloh. Beberapa bulan setelah itu, beberapa orang yang merintangi saya datang ke rumah, dan sikapnya sudah berbeda. Alhamdulillah. Saya kembali kuat dan tidak putus asa, dan akhirnya pelan-pelan kami bisa membangun pondok ini.”

Doa yang disebutkan kyai muda itu, yang diijazahkan Gus Dur kepadanya adalah petikan dari ayat di dalam surat al-Kahfi, ayat ke-10. Doa itu adalah doanya Ashahbul Kahfi yang diabadikan dalam surat al-Kahfi.

Surat al-Kahfi itu sendiri, disebutkan oleh Rosululloh melalui jalan sahabat Anas, begini: “Surat al-Kahfi turun jumlatan bersamanya adalah 70 ribu malaikat” (HR. Ad-Dailami, Musnad al-Firdaus, No. 6812; dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi, Durrul Mantsûr fî Tafsîr al-Ma’tsûr, IX: 479).

Juga tentang al-Kahfi diriwayatkan dari jalan Abdullah bin Mughoffal bahwa Nabi Muhammad bersabda: “Rumah yang dibacakan surat al-Kahfi di dalamnya, maka setan tidak akan masuk ke rumah itu pada malam itu” (Imam Jalaluddin as-Suyuthi, Durrul Mantsûr fî Tafsîr al-Ma’tsûr, IX: 479).

Hikmah yang bisa diambil dari cerita ini, adalah ketika orang sudah merasa tidak bisa mengupayakan apa-apa, seperti ditunjukkan oleh kyai muda itu, maka mengharap rahmat Alloh dan berdoa kepada-Nya adalah jalan terbaik; hal itu juga menunjukkan manusia adalah ciptaan Alloh yang lemah, dan di tengah kelemahannya itu, manusia diperintahkan untuk tidak berputus asa terhadap rahmat Alloh.

Doa Ashhabul Kahfi ini, menjadi salah satu sebab Alloh merahmati Ashahbul Kahfi, dan Alloh menidurkan mereka di gua itu sampai 309 tahun (ayat ke-25 surat al-Kahfi), sampai dibangunkan Alloh kemudian dengan penuh keheranan. Dan, doa ayat ke-10 dari surat al-Kahfi ini bisa menjadi salah satu perisai untuk mengetuk rahmat Alloh. Wallohu a’lam.

Nur Kholik Ridwan

Selasa, 26 September 2017

Hujan, Puisi Terindah Pagi Ini

Puisi terindah pagi ini adalah #hujan

Tanpa kata dan kalimat ia telah menganggit syair² terindah bagi kehidupan manusia dan alam membimbing mereka ke arah bahagia.
Bulir air yg jatuh ke tanah dari langit adalah bukti nyata keindahan dan kebahagiaan.
Selamat datang hujan. 

Jakarta, 27 September 2017

Sabtu, 23 September 2017

Nasim Khan dan Gerakan Guru Ngaji Membela Pancasila

Gerakan guru ngaji membela Pancasila

Suboh, Situbondo - Sosialisasi MPR bertajuk "Gerakan Rakyat Membela Pancasila" bersama anggota DPR MPR RI Fraksi PKB, Ir H M Nasim Khan. Di ponpes Misbahul Hidayah Suboh Situbondo. Acara digelar dengan latar belakang bahwa rakyat membutuhkan teladan para pemimpin dalam mengamalkan Pancasila sehari hari.

Menurut wakil rakyat dapil Jawa Timur III ini, Pancasila lahir sejak kemerdekaan Indonesia. Namun karena tantangan zaman selalu berubah, sehingga menjadi kebutuhan kita kaum santri ikut berperan mewujudkan Pancasila yang kontekstual di masyarakat.

"Para kiai, ustadz, dan alim ulama dibutuhkan berperan di sini," pesan Bang NK, panggilan akrabnya.

Dikatakan, para guru ngaji di langgar yang setiap habis maghrib mengajar anak anak santri membaca Al Qur'an adalah media strategis mensosialisasikan Pancasila. Pada anak anak itu harapan Pancasila semakin kuat dan tangguh untuk bangsa ini kita sandarkan.

"Kita yang tua tua ini hanya bisa mengarahkan. Anak-anak lah yang lebih panjang harapan untuk bangsa ini," katanya.

Gerakan sosial membumikan Pancasila lebih manjur model demikian, katanya, karena guru ngaji mempunyai sifat ketulusan dan keikhlasan dalam mendidik generasi muda kita. Mereka sudah teruji dan terbukti dalam mendampingi anak anak dari tidak bisa membaca sampai bisa memahami Al Qur an.

"Inilah konteks gerakan memelihara Pancasila untuk Indonesia yang lebih baik sesuai zaman dan tantangan tantangan nya," katanya dalam sambutan pembukaan.

Acara sos MPR dihadiri para ulama, ustadz, dan guru ngaji. Ikut hadir narasumber penulis buku "Guru Ngaji di Langgar: Kajian Antropologi" KH Basori Sonhaji, pengasuh Pondok pesantren Misbahul Hidayah KH Izzulhaq Mahfud, narasumber KH Zaini Sonhaji SH, dan pengurus PWNU Jawa timur KH Sunandi Zubaidi. Acara diselenggarakan oleh DPC PKB Situbondo bekerja sama dengan NKI Institute. (Kholilul Rohman Ahmad)

Senin, 31 Juli 2017

Bang Nasim Inisiatif Gelar Pelatihan Olah Bambu di Situbondo

Situbondo - Anggota DPR Komisi VI Ir M Nasim Khan dan Direktur IKM Kimia Aneka Sandang dan Kerajinan Kementerian Perindustrian Ratna Utarianingrum menghadiri acara pelatihan mengolah mebel berbasis bambu di Situbondo, 31-7-2017.

Acara dibuka oleh Direktur IKM dan diikuti para pemuda desa dan pengusaha bambu untuk meningkatkan produktivitas masyarakat desa.

Kayumas termasuk sentra pertumbuhan berbagai jenis pohon bambu tapi belum diolah maksimal sehingga yg bernilai lebih tinggi.

Oleh krn banyak bambu dikirim log keluar kota tanpa olahan dari Kayumas, bang Nasim berinisiatif mendatangkan program pelatihan pengolahan Bambu bagi masyarakat sekitarnya. Agar bambu keluar dari Kayumas lebih bernilai tinggi.

"Situbondo punya banyak persediaan bahan mentah butuh sentuhan kreatif, ya bambu, kayu, batu, dll. Ini harus diolah agar lebih bermanfaat dan bernilai ekonomi tinggi," kata Bang Nasim.

"Kami siap memfasilitasi pengolahan bahan baku apa saja yg ada di Situbondo. Bila perlu kami mengajak Pak Menteri agar masyarakat lebih semangat," timpali Bu Ratna. (kra)

Wisata Istimewa Nasim Khan ke Tanah Merah

Bertujuan mengisi kegiatan reses anggota fraksi PKB DPR RI Ir M Nasim Khan mengunjungi destinasi wisata berpotensi internasional Tanah Merah.

Kawasan wisata pemandangan alam tebing, jurang, bukit, dan paparan luas ini berada di desa Kayumas, Arjasa, #Situbondo.

Mengapa disebut Tanah Merah? Konon, dahulu kala, bukitnya dari kejauhan di pagi hari terlihat menganga merah karena pantulan sinar matahari. Begitu pula di siang hari terutama musim kemarau juga terlihat merah karena saking panasnya.

Bang Nasim menilai kawasan Tanah Merah berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi tujuan wisata alam yg ramah nyaman dan asyik dikunjungi (31/7/2017)

Dengan alasan bahwa keindahan alamnya, jalan terjal berkelok-kelok menuju lokasinya, keunikan  pepohonan dan rumputnya, serta kawasan ini masih sangat alami di tengah hutan jati.

"Sangat cocok untuk pemburu view yg indah utk foto foto dan Selfi," kata Wakil Rakyat Dapil Situbondo Bondowoso Banyuwangi.

Menuju lokasi Tanah Merah mudah dijangkau mobil maupun motor dari kota Situbondo sekira 23 KM. Berjalan kaki ke sana tidak disarankan meski sangat cocok menyehatkan badan.

Tetap berhati-hati menyusuri jalan ke Tanah Merah karena sempit dan banyak tikungan tajam. Jalan sdh beraspal mulus meski beberapa titik bergelombang dan dlm tahap perbaikan. #Alfatihah

Selasa, 25 Juli 2017

Nasim Khan `Sosialisasi PBNU` di Kalangan Nelayan Situbondo

Panarukan, Situbondo, laskarjagad [dot] net - Anggota Fraksi PKB MPR RI Ir M Nasim Khan mengatakan, Pancasila merupakan ideologi bangsa Indonesia yang mempersatukan seluruh komponen bangsa yang sangat beragam. Hanya Pancasila sejak Indonesia merdeka yang mampu mengatasi segala persoalan perbedaan kehidupan di Indonesia. 

ANGGOTA FPKB MPR RI M NASIM KHAN MENYERAHKAN CENDERAMATA SAMPAN KEPADA NARASUMBER DPP PKB MOCHYIDIN HARIS. SITUBONDO, 23 JULI 2017. (FOTO: KRA)
Pandangan tersebut disampaikan Bang Nasim, demikian panggilan akrabnya, dalam acara Sosialisasi MPR di Daerah Pemilihan Jawa Timur III, di Aula Papermas, Desa Gelung, Panarukan, Situbondo (23/7). Acara dihadiri narasumber Ketua DPC PKB Ali Yafi Mughni, Abdul Wafi, Dewan Syura Habib Husein Bin Abu Bakar, Ketua DPRD Situbondo Basori, dan beberapa anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa DPRD.  Hadir juga narasumber DPW PKB Jawa Timur Mas Yusuf dan Mas Syamsul dan narasumber DPP PKB Mochyidin Haris. 

MENYANYIKAN LAGU KEBANGSAAN `INDONESIA RAYA` SOSIALISASI MPR DI DAPIL JAWA TIMUR III BERSAMA ANGGOTA FPKB MPR RI, Ir M NASIM KHAN. SITUBONDO, 23 JULI 2017. (FOTO: KRA)
Menurut Bang Nasim yang juga Sekretaris Jenderal Majelis Pesona ini, kelompok-kelompok masyarakat di Indonesia mengalami perkembangan yang dinamis sejalan pergaulan bangsa di tingkat internasional. Bahkan Indonesia menjadi sasaran pengembangan ideologi luar negeri (transnasional) yang bisa mengancam keberlangsungan keharmonisan dan kebersatuan bangsa-bangsa di Indonesia. 

“Melihat kenyataan itu, kita sebagai bangsa Indonesia harus optimis dan percaya. Bahwa Pancasila adalah satu-satunya solusi untuk mengatasi problem perbedaan,” pesan Bang Nasim kepada hadirin mayoritas kalangan nelayan. 

Situbondo Terus Belajar
Ketua DPC PKB Ali Yafi menyatakan, terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada Bang Nasim yang telah memberikan kesempatan kepada warga Situbondo untuk memperoleh materi-materi PBNU, yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UU NRI 1945. 

KETUA DPC PKB SITUBONDO ALI YAFI MUGHNI MENYAMPAIKAN AMANAT WARGA SITUBONDO. SOSIALISASI MPR DI DAPIL JAWA TIMUR III BERSAMA ANGGOTA FPKB MPR RI, Ir M NASIM KHAN. SITUBONDO, 23 JULI 2017. (FOTO: KRA)
“Masyarakat Situbondo ingin terus belajar bagaimana bisa mengakses ilmu pengetahuan dari mana pun asalnya. Kami sebagai DPC PKB akan terus men-support segala upaya positif untuk kemajuan Situbondo,” tutur Ali Yafi. 

Peserta Sosialisasi MPR di Desa Gelung terdiri dari berbagai kalangan petani, peternak, pekebun, dan nelayan. Namun karena bertempat di Desa Gelung merupakan kawasan pantai sehingga sebagian besar pesertanya terdiri dari mereka yang sehari-hari bergelut dengan sampan, jaring, pancing, dan dan air laut. Tidak ketinggalan para ibu-ibu nelayan yang biasanya ikut mengelola hasil laut para suami yang melanglang mencari ikan di laut. 

Pada sesi ramah tamah setelah seremonial acara pembukaan, Anggota MPR Ir M Nasim Khan menyerahkan cenderamata kayujati berbentuk sampan (perahu kecil) dibungkus kaca bening simbol nafas hidup masyarakat Situbondo. 

“Dengan cenderamata ini kami sebagai Wakil Rakyat akan terus berupaya membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat nelayan, kami mohon doa bapak dan ibu semua, mari kita bersholawat nariyah,” pesan Bang Nasim. [kholilul rohman ahmad] 



DESA GELUNG MERUPAKAN KAWASAN PANTAI SEKTOR PARIWISATA PANTAI DAN KAWASAN NELAYAN KABUPATEN SITUBONDO. (FOTO: KRA)

BANG NASIM MENYAMPAIKAN `PESAN-PESAN PBNU` (PANCASILA, BHINNEKA TUNGGAL IKA, NKRI, UU NRI 1945) DAN MEMBUKA SECARA RESMI ACARA SOSIALISASI MPR DI DAPIL JAWA TIMUR III BERSAMA ANGGOTA FPKB MPR RI, IR M NASIM KHAN. DESA GELUNG PANARUKAN, SITUBONDO 23 JULI 2017. (FOTO: KRA)

 ANGGOTA FPKB MPR RI M NASIM KHAN MENYERAHKAN CENDERAMATA SAMPAN KEPADA NARASUMBER DEWAN SYURA  DPC PKB KABUPATEN SITUBONDO. (FOTO: KRA)

 ANGGOTA FPKB MPR RI M NASIM KHAN MENYERAHKAN CENDERAMATA SAMPAN KEPADA NARASUMBER DPC PKB KABUPATEN SITUBONDO.  PANARUKAN, SITUBONDO, 23 JULI 2017. (FOTO: KRA) 

 FOTO BERSAMA NARASUMBER, PENGURUS DPC PKB SITUBONDO, DAN KETUA BESERTA ANGGOTA FPKB DPRD KABUPATEN SITUBONDO. SOSIALISASI MPR DI DAPIL JAWA TIMUR III BERSAMA ANGGOTA FPKB MPR RI, IR M NASIM KHAN. PANARUKAN, SITUBONDO, 23 JULI 2017. (FOTO: KRA) 

 ANGGOTA FPKB MPR RI M NASIM KHAN MENYERAHKAN CENDERAMATA SAMPAN KEPADA NARASUMBER DPW PKB JAWA TIMUR.  SITUBONDO, 23 JULI 2017. (FOTO: KRA)  




Senin, 03 Juli 2017

Getaran Silaturahim Syawalan di Pesantren Tegalrejo

Syawalan di Tegalrejo Magelang

Gus Yusuf, pengasuh pondok pesantren API (asrama perguruan Islam) Tegalrejo Magelang. Bersama ibunya, Bu Nyai Chudlory.

Berlebaran hari pertama Syawal sampai habis bulan Syawal nya, setiap harinya, diliputi ratusan tamu berkunjung ke kediaman Gus Yusuf di kompleks pesantren ini utk silaturahim. Tamu rombongan kecil diterima di ruang tamu, tamu rombongan besar diterima di aula.

Suasana semacam itu sdh berlangsung, mungkin, tiga puluh lima tahun terakhir. Sejak pesantren ini menerima santri putri. Saya berkesempatan menjadi saksi setiap momentum lebaran di sini sekira 10 tahun terakhir.

Tidak ada perubahan signifikan berkaitan tradisi silaturahim Syawalan di kediaman Kiai pengasuh pesantren di​ Tegalrejo --juga di Jawa pada umumnya-- antara lain, teh hangat, camilan peyek, roti, tempe goreng, jenang, krasik'an, emping, kacang bawang, dan makan nasi sebelum tamu pulang.

Suasananya ya seperti itu, sejak dulu sampai sekarang. Warga umum, santri, dan alumni santri bersama keluarga datang `sowan` silahturrahim dan mengucapkan selamat hari raya Idhul Fitri, mohon maaf atas segala khilaf kepada beliau, dan mohon doa utk keberkahan hidup di dunia dan akhirat​. Para tamu menengadahkan tangan ke atas saat Gus Yusuf atau Nyai Chudlori melafalkan doa-doa.

Pada hari kedelapan ini (2/7/2017) saya dan keluarga datang sowan ke Tegalrejo berlebaran dan silaturahim kepada Gus Yusuf dan Ibunya dengan tujuan yang sama, seperti tamu-tamu pada umumnya. Alfatihah.

--Kholilul Rohman Ahmad, kembali ke basis





Ayo daftar Jadi Jutawan