Sabtu, 24 Juni 2017

Amalan Wiridan di Hari Raya Idul Fitri

Amalan Wiridan di Hari Raya Idul Fitri

Dalam kitab Kanzunnajah Wassurur hal 269-270 cet Dar Al Minhaj disebutkan bahwa di antara amalan yang dianjurkan di Hari Raya adalah:

Pertama,  membaca ISTIGFAR 100X sehabis shalat subuh.

Barang siapa yang mengamalkannya akan dihapus dosanya dan di hari kiamat termasuk orang yang akan diselamatkan dari azab Allah ﷻ

Kedua, 
Memvaca SUBHANALLAH WA BIHAMDIH 100X sebelum berangkat shalat Id kemudian dihadiahkan pahalanya buat orang-orang mukmin yang meninggal dunia.

Barangsiapa yang mengamalkanya maka setiap orang mukmin yang meninggal akan berdoa untuknya,  " wahai zat yang maha pengasih, kasihanilah hambamu ini, dan jadikan pahala untuknya adalah surga,

Dan jika dibacanya 300X kemudian dihadiahkan pahalanya untuk orang2 yang meninggal, maka Allah ﷻ akan kirim ke setiap kubur orang mukmin seribu cahaya dan jika dia meninggal Allah akan kirim pula di kuburnya seribu cahaya untuknya.

KETIGA :
Membaca LAAILAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYARIIKALAH, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU YUHYI WA YUMIIT WAHUWA HAYYUN LAA YAMUUT BIYADHIL KHER WAHUWA ALA KULLI SYAI IN QADIIR

لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد يحي ويميت ، وهو حي لا يموت بيده الخير وهو على كل شيء قدير
Sebanyak 400X sebelum shalat Id.

Barang siapa mengamalkannya maka mendapat pahala memerdekakan 400 budak. Dan Allah akan mengirim Malaikat untuk membangun buatnya sebuah kota di sorga, dan Allah akan menanam bagi nya tanaman sampai hari kiamat.

Sahabat Anas bin Malik RA mengatakan,  " Saya tidak pernah meninggalkannya semenjak pertama kali mendengarnya dari Rosulullah ﷺ

IDHUL FITRI DAN SEPOTONG ROTI YANG BASI

IDHUL FITRI DAN SEPOTONG ROTI YANG BASI

Ada sebuah kisah yang mudah dilupakan kita, tapi seharusnya tak boleh dilupakan, khususnya ketika Ramadhan sudah diambang pintu perpisahan dan sesaat lagi takbir Idhul Fitri berkumandang. Kisah itu tentang keteladanan keluarga Nabi, yaitu datang dari Sayyidina Ali, yang disaksikan dua karibnya; Ibnu Rafi’i dan Abu Al Aswad Ad Du’ali, keduanya pernah ikut perang Jamal bersama Ali bin Abu Thalib, dan kedua karib itu termasuk pembesar kelompok pendukung Ali sampai akhir hayatnya. Kisah ini setidaknya termaktub pada dua buku; Sirrah Ashabu an-Nabi, karya Syekh Mahmud al-Misri dan Syiar A’lam An-Nubala’, karya Imam Adz-Dzahabi.

Persis usai shalat Asar, setelah seharian merasa sedih, karena bulan Ramadhan akan segera berakhir, Ali kemudian pulang  dari Masjid, sesampai di rumah ia disambut sang istri dengan pertanyaan yang bernada penuh perhatian. "Kenapa engkau terlihat pucat, kekasihku,” demikianlah sapa Sayyidah Fatimah, "tak ada tanda-tanda keceriaan sedikitpun di wajahmu, padahal sebentar lagi kita akan menyambut hari kemenangan?” Ali hanya terdiam lesu, tak berapa lama kemudian ia minta pertimbangan Sang istri untuk mensedekahkan semua simpanan pangannya kepada fakir miskin. "Hampir sebulan kita mendapat pendidikan dari Ramadhan, bahwa lapar dan haus itu teramat pedih. Segala puji bagi Allah, yang sering memberi hari-hari kita dengan perut sering terisi..." 

Singkat cerita, sore itu juga, beberapa jam sebelum takbir berkumandang, Ali ibn Abi Thalib terlihat sibuk mendorong pedatinya, yang terdiri dari tiga karung gandum dan dua karung kurma hasil dari panen kebunnya. Ia berkeliling dari pojok kota dan perkempungan untuk membagi-bagikan gandum dan kurma itu kepada fakir miskin dan yatim/piatu. Sementara istrinya, Sayyidah Fathimah az-Zahra, sambil menuntun dua putranya Hasan dan Husein, nampak di tangannya memegang kantong plastik yang besar. Mereka sekeluarga, kompak mendatangi kaum fakir miskin untuk disantuni. Begitu mereka berjalan sampai larut malam, tangannya membagikan santunan, bibirnya bertakbir kepada Allah.

Esok harinya tiba salat ‘Idul Fitri. Sayyidina Ali naik mimbar dan berkotbah di Masjid Qiblatain, potongan isi khotbah itu diantaranya tentang beberapa tanda-tanda orang yang mendapatkan "taqwa" dari puasanya yang sebulan penuh, "Yaitu mereka yang peka hati nuraninya, sehingga menggerakkan tangannya untuk peduli kepada sesama, berbagi rezeki, berbagi kebahagiaan, berbagi senyuman yang hangat, sebab kita semua sudah merasakan, bahwa lapar dan dahaga itu sesuatu yang berat..." Begitulah Sayyidina Ali, beliau tak akan pernah mengucapkan, sebelum ia sendiri sudah melakukan dan memberi keteladanan.

Setelah Shalat 'Id selesai dan hari masih sangat pagi, karib beliau, Ibnu Rafi’i dan Abu Al Aswad Ad Du’ali berkunjung dan bermaksud untuk mengucapkan selamat ‘Idul Fitri kepada keluarga Rasulullah Saw. itu, oh, begitu pintu terbuka, alangkah kagetnya mereka berdua, kedua hidung dua karib ini lamat-lamat mencium aroma yang tak sedap, dari nampan yang berisi gandum dan roti kering yang sudah basi dan disantapnya makanan yang tak layak konsumsi itu dengan lahapnya. Seketika itu Ibnu Rafi’i dan dan Al Aswad Ad Du’ali berucap istighfar, sambil berpelukan dan menangis, karena kedua dada sahabat ini ada yang nyeri di sana.

Merasa tak kuat melihat pemandangan itu, mereka kemudian, berpamitan, sebelum berpelukan, merekapun pergi menjauh dari pemandangan yang menggetarkan itu, di sepanjang jalan mata Ibnu Rafi’i berlinang air mata, perlahan butiran itu menetes di pipinya dan jatuh ke tanah seperti mengukir sebuah jejak kesedihan sampai ke kediamannya. Idul Fitri yang seharusnya penuh suka cita, tapi pagi itu mereka bersedih. Sementara Abu Al Aswad Ad Du’ali, terus bertakbir di sepanjang jalan, kecamuk dalam dadanya sangat kuat, setengah lari ia pun bergegas menghadap Rasulullah Saw. Tiba di depan Rasulullah, iapun mengadu “Ya Rasulullah. Putra baginda, putri baginda dan cucu baginda,” ujar Ad Du’ali terbata-bata. “Tenangkan dirimu, ada apa wahai sahabatku?” tanya Rasulullah menenangkan.

“Segeralah ke rumah menantu dan putri baginda, ya Rasulullah. Saya khawatir cucu baginda Hasan dan Husein akan sakit.”

“Ada apa dengan cucuku dan keluargaku?”

“Saya tak kuat menceritakan itu sekarang, lebih baik menengoknya...”

Tak berpikir lama, Rasulullah Saw. pun segera menuju rumah putrinya. Tiba sampai di halaman rumah, tak ada apa-apa yang dikhawatirkan oleh Ad Du’ali, keluarga itu tak merasa ada apapun yang aneh, justru tawa bahagia mengisi percakapan antara Sayyidina Ali, Sayyidatuna Fathimah dan kedua anaknya. Bahkan, yang sedikit aneh, mata Ad Du’ali sendiri menyaksikan, ternyata keluarga itu masih menyimpan sedikit kurma yang layak dikonsumsi untuk menyambut tamu yang datang. Mata Rasulullah pun sembab, beliau terharu, sebab ia sendiri melihat bekas-bekas makanan basi yang sudah disantap keluarga itu dan bauh anyirnya masih menyengat. Tak terbendung juga butiran mutiara bening menghiasi wajah Rasulullah Saw. nan bersih.

“Ya Allah, Allahumma Isyhad. Ya Allah saksikanlah, saksikanlah." Bibir Rasulullah berbisik lembut. Sayyidatuna Fathimah tersadar kalau di luar pintu rumah, bapaknya sedang berdiri tegak. Gandum basi yang dipegangnya terjatuh ke lantai. “Abah, kenapa engkkau biarkan dirimu berdiri disitu, tanpa memberi tahu kami, oh, relakah abah menjadikan kami anak yang tak berbakti?" Berondong Fathima spontan, lalu mencium tangan Abahnya dan abahnya ke ruang tamu. "Kenapa Abah menangis? Kenapa pula sahabat ad Duali mengikuti dibelakang Abah” Rasulullah tak tahan mendengar pertanyaan itu. Setengah berlari ia memeluk putri kesayangannya sambil berujar, “Semoga kelak surga tempatmu Nak. Surga untukmu.” Mereka yang ada disitu lalu menjawab bersama-sama, Allahuma amin...

Air mata Rasulullah tiba-tiba mengucur ceras, saat melihat sendiri dengan matanya akan kesederhanaan dan kebersahajaan putri beliau bersama keluarganya. Di hari yang Fitri, di saat semua orang berkumpul, canda gurau dan berbahagia, di saat semua hidangan kuliner aneka rupa menumpuk di meja makan.

Keluarga Rasulullah Saw. cukup tersenyum bahagia dengan gandum dan sepotong roti basi yang baunya tercium tak sedap, oleh siapapun yang menghampiri. Ganjil memang, dan orang bisa saja bilang; Duh, segitunya... tetapi orang boleh berbeda dalam penghayatannya pada sesuatu yang bersifat trasendental.

Demikianlah, sekelumit kesaksikan ad Duali dan Ibnu Rafi’i, atas keluarga Rasulullah Saw. pada hari ‘Idul Fitri, selalu saja mereka, orang-orang mulia itu, menyantap makanan yang basi berbau anyir. Jika itupun masih tersisa sedikit yang layak konsumsi itu khusus dihidangkan buat tamu.

Ibnu Rafi’i berkata, “Itulah salah satu dampak pendidikan Ramadhan bagi keluarga Nabi, dan aku diperintahkan oleh Rasulullah Saw. agar tidak menceritakan tradisi keluarganya setiap ‘Idul Fitri. Aku pun simpan kisah itu dalam hatiku. Namun, setelah Rasulullah Saw. meninggal, aku takut dituduh menyembunyikan hadits, maka terpaksa aku ceritakan agar jadi pelajaran bagi segenap kaum Muslimin untuk benar-benar bisa mengambil hikmah dari madrasah Ramadhan.”

Demikian tulis Musnad Imam Ahmad, jilid 2, halaman. 232.

Selamat menyambut kemenangan nan fitri...

Rabu, 15 Maret 2017

Pancasila, Nasim Khan Bersholawat, dan Bahagia Kaum Santri

KEBAHAGIAAN DAN PENGUATAN PANCASILAAnggota FPKB DPR MPR RI Dapil Jawa Timur III, Ir M Nasim Khan, dalam kebersamaan berbingkai Pancasila acara Sosialisasi MPR di Ponpes Nurul Abror Assalafiyah (Ponpes NAA), Alas Buluh, Wongsorejo, Banyuwangi. (Foto: KHOLILUL ROHMAN AHMAD)
BANYUWANGI,– Anggota DPR MPR RI Fraksi PKB Dapil Jawa Timur III, Ir M Nasim Khan, menggelar kegiatan Pendidikan Penguatan Pancasila dan NKRI di Banyuwangi. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari Sosialisasi MPR oleh Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPRRI).

Menurut Bang NK, panggilan akrabnya, memasyarakatkan Pancasila sebagai bagian dari memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan tanggung jawab seluruh warga negara. Meskipun pihaknya menjadi pejabat sebagai wakil rakyat di Senayan, sesungguhnya ‘hanya’ meneruskan tanggungjawabnya sebagai rakyat sebagaimana umumnya.

“Lebih dari itu kita semua punya tanggungjawab untuk tegaknya NKRI dan keutuhan Pancasila. Bukan hanya pejabat saja. Namun seluruh warga negara Indonesia mempunyai kewajiban yang sama, tanpa kecuali,” katanya.

Dikatakan, tegaknya Pancasila dan keutuhan NKRI tidak pernah lepas dari peran para santri dan masyayikh yang gigih bergerak melakukan penguatan nilai-nilai Pancasila di pondok pesantren, surau, musholla, dan masjid. Bahkan khutbah-khutban yang dikumandangkan para khatib saat shalat Jumat merupakan bagian dari penguatan Pancasila sila pertama, yakni ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’.
PANCASILA DAN KAUM SANTRI - Anggota FPKB DPR MPR RI Ir M Nasim Khan menyampaikan kata sambutan kehormatan sekaligus keynote speaker Sosialisasi MPR di Ponpes Nurul Abror Assalafiyah (Ponpes NAA), Alas Buluh, Wongsorejo, Banyuwangi. Dalam sambutan Bang Nasim, Anggota DPR Dapil Jawa Timur III (Situbondoo Bondowoso Banyuwangi), menyampaikan pentingnya kaum santri ikut berperan aktif dalam peguatan Pancasila demi keutuhan NKRI. (Foto: KHOLILUL ROHMAN AHMAD)

“Kita patut berterima kasih kepada para khatib yang istiqamah menyampaikan khutbah-khutbah bernilai Pancasila. Pesan saya, hindarkan khutbah yang provokativ dan memecah belah ummat,” tuturnya.

Acara sosialisasi MPR dan Pendidikan Pancasila di gelar di Pondok Pesantren Nurul Abror Assalafiyah (Ponpes NAA), Alasbuluh, Wongsorejo, Banyuwangi, asuhan KH Fadlurrahman Zaini. Dibuka secara resmi Ketua Umum DPC PKB Banyuwangi HM Joni Subagio dihadiri Anggota DPR MPR RI Ir M Nasim Khan Dapil Jawa Timur III (Situbondo Bondowoso Banyuwangi), Ketua MWC NU Wongsorejo, dan para masyayikh serta asatidz.

Manurut Abah Joni, para peserta diajak menelusuri materi nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, UUD NRI 1945 (PBNU) dan Islam ala Ahlussunah Wal Jamaah. Dari Jakarta hadir narasumber DPP PKB memberikan pembekalan kepada para peserta tentang Pancasila, NKRI, UUD NRI 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan ke-PBNU-an oleh Abdul Fattah. Sementara itu, narasumber DPW PKB Jawa Timur ikut hadir memperkuat pengkaderan Pancasila di Wongsorejo ini, yaitu Syamsul dan Humaidi.

Sekretaris Umum DPC PKB Banyuwangi M Ali Mahrus S Ag mengatakan, fokus pendidikan Pancasila di Banyuwangi diprioritaskan bagi kalangan perempuan. Sebab nilai-nilai Pancasila bisa mudah memasyarakat melalui jalur keluarga di mana para ibu-ibu mempunyai peran menentukan perkembangan Pancasila di masyarakat. 

“Secara tradisi memang laki-laki kepala keluarganya. Faktanya begitu. Namun kaum perempuan ikut menentukan nilai-nilai Pancasila di rumah (keluarga, red.),” kata Ali Mahrus didampingi Pengurus PAC Wongsorejo, Ahmad Taufik.

Bang NK, menyatakan, penguatan Pancasila di Banyuwangi harus tumbuh dan tangguh dalam mempersiapkan generasi bangsa yang akan datang. Seluruh kader Pancasila diharapkan mampu membawa nama baik Nahdlatul Ulama, para guru, dan masyayikh yang telah memberikan ilmu-ilmu kehidupan dan keilahian kepada kita.


“Di sinilah makna penting Pancasila bagi kita sebagai kaum santri,” pungkasnya. -kra

Kamis, 09 Februari 2017

Majelis Pesona `Sholawatan` Mohon Dikaruniai Pemimpin Cerdas dan Berakhlak






Jakarta, LASKARJAGAD[DOT]NET – Menjelang digelar pilkada serentak tingkat provinsi kabupaten/kota di seluruh Indonesia, Majelis Pesona (Majelis Pecinta Sholawat Nusantara) menggelar “Sholawatan untuk Bangsa” bersama alim ulama dan yatim piatu di Ciganjur, Jakarta Selatan (9/2).

Acara dimaksud sebagai upaya batiniah agar Allah SWT mendatangkan para pemimpin yang amanah dan adil. Sekretaris Jenderal Majelis Pesona Ir M Nasim Khan menyatakan, berbagai peristiwa sosial politik menjelang pilkada merupakan keniscayaan yang tidak bisa dihindari sebagai bagian dari dinamika masyarakat.

Namun, kita sebagai warga negara harus menjunjung tinggi pentingnya perdamaian dan kenyamanan hidup bersama di tengah berbagai kelompok masyarakat.

“Jadi pilkada harus bisa menghasilkan pemimpin terbaik di antara banyak makhluk yang lemah dan kurang,” ujar Bank NK, demikian panggilan akrabnya.

Dikatakan, bahwa di tengah-tengah masyarakat tidak ada manusia sempurna, kecuali Rasulullah SAW, dan kesempurnaan hanya milik Allah SWT.

“Karena manusia lemah dan kurang itulah, maka kita memohon kepada Allah dengan ikhtiar menggemakan sholawat kepada Nabi,” tambahnya. 

Menurut Bang NK, kegiatan Sholawat untuk Bangsa juga dimaksudnya sebagai upaya permohonan agar bangsa kita dikaruniai para pemimpin dan umat yang cerdas akal pikiran, terbuka hatinya, dan siap membangun Indonesia bersama rakyat.

“Yakni pemimpin yang bertakwa, berakidah, dan cinta sholawat Nabi,” pungkasnya.

Direncanakan acara sholawatan juga dihadiri tokoh, alim ulama, dan para santri se-Jabodetabek. Antara lain, HA Muhaimin Iskandar, H Marwan Ja'far, Koordinator Nasional Nusantara Mengaji H Jazilul Fawaid, dan Sekjend PBNU H Helmy Faishal Zaini. 



~KRA 

Senin, 06 Februari 2017

Buku baru, foto cak Imin, dan gorengan tanpa cabe

FOTO USTADZ JEFRI AL BUCHORI DI SHALATKAN DI ISTIQLAL

Mengapa foto Cak Imin (Ketua Umum DPP PKB Abdul Muhaimin Iskandar) dan peristiwa shalat jenazah ustadz Jefri gagal tayang di harian cetak Kompas?

Sepulang kerja, rencana paling indah adalah menaruh segudang agenda hari ini yang tertunda untuk jadi tuntas. Harapan akan hari esok masih terbuka lebar. Amin.

Lalu teringat acara pameran foto di Kompas. Meluncur lah ke Palmerah, ternyata acara sudah bubar, lampu berubah redup, dan penggembira geser meramaikan halaman parkir motor, ambil motor masing-masing.

Hanya lapak penjualan merchandising kaos, mug, dan buku yg masih nyala lampu. Petugas petugasnya masih berjaga sembari berkemas kemas.

Saya mendekat di lapak penjualan buku "Unpublishied". Setelah tanya harga, kuambil dompel lalu berhasil "nempil" satu buku untuk bekal 'ngaso' di kamar: buku sebagai pengantar pulas.

Buku ini berisi ratusan foto yang tidak diterbitkan alias tersingkir naik cetak di harian Kompas. Aryo Wisanggeni Genthong menyebut "tak pantas" dan "foto sial" --tentu maknanya tak sepenuhnya begitu karena sebuah foto dimuat atau tidak harus melewati rapat redaksi yang ketat.

Foto Cak Imin (April 2011) karya Hendra A Setyawan di halaman 16 adalah salah satu foto gagal tayang di harian Kompas. Foto lainnya, adalah peristiwa shalat jenazah Ustadz Jefri Al- Buchori di masjid Istiqlal (April 2013) fotonya berhasil tayang di halaman depan harian Kompas. Namun foto ciamik bergambar kerandanya di tengah kerumunan jamaah tidak ditayangkan. Redaksi memilih foto ribuan jamaah saat menshalatinya tanpa kelihatan keranda. Di buku ini foto kerandanya di tengah jamaah diabadikan di halaman 13.

Mengapa foto "spektakuler" shalat jenazah ustadz Jefri tidak ditayangkan Kompas? Alasannya ada di buku ini.

Setelah buku terbeli, bayar, lalu kembali ke halaman parkir, ambil motor dan menyusuri gang sempit di belakang pasar Palmerah, lantas terasa perut lapar namun enggan makan. Terpilihlah beli tahu susur dan telo goreng di pedagang warteg di jalan sempit itu.

Pulang. Sesampai di rumah baru kusadari gorengan hangat terbungkus rapi ini tidak ada cabenya.
Terimakasih kawan Heru Sri Kumoro yg rajin update acara foto foto di Facebook. Ingatanku acara tadi digelar hari Selasa besok. Ya sudah. Alfatihah.....

[KHOLILUL ROHMAN AHMAD]
BUKU BARU UNPUBLISHED DAN GORENGAN TANPA CABE. 
KETUA UMUM DPP PKB CAK IMIN (H ABDUL MUHAIMIN ISKANDAR)

Rabu, 01 Februari 2017

Majelis Pesona: Ahok Keterlaluan dan tidak Berakhlak


KH Ma’ruf Amin, Sekjend PBNU KH Helmy Faishal Zaini, 
dan Sekjend Majelis Pesona M Nasim Khan. (Foto: Istimewa)





Jakarta, LASKARJAGAD.NET -- Sekretaris Jenderal Majelis Pecinta Sholawat Nusantara (Majelis Pesona) Ir M Nasim Khan menyayangkan pernyataan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) yang akan melaporkan KH Ma’ruf Amin ke polisi. Katanya, sikap Ahok mencerminkan tidak berakhlak dan sudah keterlaluan sehingga memancing kisruh di kalangan umat Islam, khususnya warga nahdliyin.

“Sikap Ahok tidak berakhlak. Itu sudah sangat keterlaluan,” kata Bank NK yang diwawancarai via media WhatsApp di tengah aktivitas ibadah umroh di Makkah bersama keluarga besar KHR M Cholil As’ad Syamsul Arifin (Pengasuh Ponpes Walisongo, Situbondo), 1/2.

Menurut Bang NK, demikian panggilan akrabnya, seharusnya Ahok sebagai publik figur menjaga perkataan dan sikap yang bisa menimbulkan kontroversi di masyarakat. Katanya, perilaku Ahok terhadap Kiai Ma’ruf di luar batas kewajaran dan  jauh dari kemestian sebagai tokoh yang dikenal luas di masyarakat.

“Apalagi Ahok juga sedang nyalon Gubernur DKI,” tambahnya.

Menyikapi perilaku Ahok menyerang Kiai Ma’ruf, Bang NK menyarankan agar Ahok segara meminta maaf kepada Rais ‘Am PBNU itu sekaligus meminta maaf kepada seluruh warga nahdliyin secara terbuka.

“Karena akibat perbuatan Ahok bukan PBNU saja yang dilukai, namun seluruh umat Islam,” katanya.

Menurutnya, permintaan maaf harus dilakukan secara langsung kepada Kiai Ma’ruf agar keributan segera selesai sehingga warga Nahdlatul Ulama kembali tenang dan damai.

“Warga nahdliyin jangan terpancing emosinya dan ambil tindakan sendiri. Taati perintah PBNU, PWNU, PCNU, dan MWC NU agar kekisruhan tidak melebar-lebar,” pesan Bang NK.*


-KRA 

Rabu, 25 Januari 2017

Pancasila, Nasim Khan, dan Membendung Serbuan Ide-ide Radikal

Anggota MPR Ir M Nasim Khan bersama peserta kegiatan Sosialisasi MPR empat pilar PBNU (Pancasila Bhinneka Tunggal Ika NKRI dan UUD NRI 1945) di Daerah Pemilihan Jawa Timur III, Aula PG Asembagus, Situbondo, Jawa Timur. 


SITUBONDO, LASKARBANGSAONLINE.net - Anggota MPR Ir M Nasim Khan menggelar sosialisasi MPR empat pilar PBNU (Pancasila Bhinneka Tunggal Ika NKRI dan UUD NRI 1945) di Asembagus, Situbondo, Jawa Timur.

Nasim mengatakan, Pancasila untuk bangsa Indonesia adalah ruh perekat dan pemersatu untuk seluruh umat manusia dari berbagai suka bangsa agama dll. Nasim Khan menggelar di Asembagus tanah kelahirannya sebagai tanggung jawab ideologis memperkuat Indonesia dari serbuan ide ide radikal agar Indonesia semakin melesat jadi juara dunia.

Lanjutnya, kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran serta para ulama dan santri. Pernyataan ini disampaikan oleh Anggota DPR RI, Ir. Nasim Khan dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) saat melakukan sosialisasi empat pilar kebangsaan di Aula PG Asembagus, Situbondo, kemarin (28/12/2016)

Menurutnya, argumentasi bahwa ulama dan santri tidak tahu apa apa itu tidak benar. Ia menjelaskan bahwa perjuangan para ulama dan santri itu jelas terhadap bangsa dan kemerdekaan Indonesia.

"Perlu diingat, bahwa tidak akan ada kemerdekaan Indonesia yang selalu kita rayakan setiap 17 Agustus ini tanpa adanya perjuangan, peran serta para ulama dan santri," kata Anggota Komisi VI DPR RI ini, Ir. Nasim Khan.

Nasim melanjutkan, umat islam di Indonesia ikut punya andil besar dalam mengusir para kaum penjajah, dalam hal ini ulama dan santri menjadi garda terdepan dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

"Jadi untuk itu, perjuangan mereka harus dilanjutkan, beliau-beliau sudah mengorbankan segalanya untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia ini," tegasnya.

Politisi PKB ini mengungkapkan, tantangan saat ini adalah adanya krisis ideologis yang akan berakibat pada tergerusnya jati diri bangsa Indonesia sebagai bangsa yang Pancasilais, seperti kekerasan atas nama agama, perbedaan kepentingan politik dan liberalisasi di bidang ekonomi.

"Oleh sebab itu sosialisasi empat pilar kebangsaan ini sangat penting sebagai pengukuhan terhadap nilai nilai dasar nasionalisme yang telah dibentuk sejak kemerdekaan, dan nilai-nilai itu juga merupakan warisan luhur para ulama," terang Nasim Khan kepada pers.

Anggota DPR RI yang terpilih dari dapil III Jatim melipiti Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi ini menuturkan, secara formal setiap tahun dirinya melakukan sosialisasi empat pilar kebangsaan sebanyak enam kali, disamping agar masyarakat memahami terhadap nilai nilai NKRI, juga untuk mengetahui apa yang menjadi aspirasi masyarakat.

"Saya sebagai wakil rakyat hanya menjadi fasilitator, dan jembatan bagi masyarakat, sehingga kalau ini bersinergi dan terus ditindak lanjuti dengan baik serta dilakukan dengan benar tidak ada ceritanya Indonesia tidak makmur," pungkasnya. (kra)

Ayo daftar Jadi Jutawan