Senin, 31 Juli 2017

Bang Nasim Inisiatif Gelar Pelatihan Olah Bambu di Situbondo

Situbondo - Anggota DPR Komisi VI Ir M Nasim Khan dan Direktur IKM Kimia Aneka Sandang dan Kerajinan Kementerian Perindustrian Ratna Utarianingrum menghadiri acara pelatihan mengolah mebel berbasis bambu di Situbondo, 31-7-2017.

Acara dibuka oleh Direktur IKM dan diikuti para pemuda desa dan pengusaha bambu untuk meningkatkan produktivitas masyarakat desa.

Kayumas termasuk sentra pertumbuhan berbagai jenis pohon bambu tapi belum diolah maksimal sehingga yg bernilai lebih tinggi.

Oleh krn banyak bambu dikirim log keluar kota tanpa olahan dari Kayumas, bang Nasim berinisiatif mendatangkan program pelatihan pengolahan Bambu bagi masyarakat sekitarnya. Agar bambu keluar dari Kayumas lebih bernilai tinggi.

"Situbondo punya banyak persediaan bahan mentah butuh sentuhan kreatif, ya bambu, kayu, batu, dll. Ini harus diolah agar lebih bermanfaat dan bernilai ekonomi tinggi," kata Bang Nasim.

"Kami siap memfasilitasi pengolahan bahan baku apa saja yg ada di Situbondo. Bila perlu kami mengajak Pak Menteri agar masyarakat lebih semangat," timpali Bu Ratna. (kra)

Wisata Istimewa Nasim Khan ke Tanah Merah

Bertujuan mengisi kegiatan reses anggota fraksi PKB DPR RI Ir M Nasim Khan mengunjungi destinasi wisata berpotensi internasional Tanah Merah.

Kawasan wisata pemandangan alam tebing, jurang, bukit, dan paparan luas ini berada di desa Kayumas, Arjasa, #Situbondo.

Mengapa disebut Tanah Merah? Konon, dahulu kala, bukitnya dari kejauhan di pagi hari terlihat menganga merah karena pantulan sinar matahari. Begitu pula di siang hari terutama musim kemarau juga terlihat merah karena saking panasnya.

Bang Nasim menilai kawasan Tanah Merah berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi tujuan wisata alam yg ramah nyaman dan asyik dikunjungi (31/7/2017)

Dengan alasan bahwa keindahan alamnya, jalan terjal berkelok-kelok menuju lokasinya, keunikan  pepohonan dan rumputnya, serta kawasan ini masih sangat alami di tengah hutan jati.

"Sangat cocok untuk pemburu view yg indah utk foto foto dan Selfi," kata Wakil Rakyat Dapil Situbondo Bondowoso Banyuwangi.

Menuju lokasi Tanah Merah mudah dijangkau mobil maupun motor dari kota Situbondo sekira 23 KM. Berjalan kaki ke sana tidak disarankan meski sangat cocok menyehatkan badan.

Tetap berhati-hati menyusuri jalan ke Tanah Merah karena sempit dan banyak tikungan tajam. Jalan sdh beraspal mulus meski beberapa titik bergelombang dan dlm tahap perbaikan. #Alfatihah

Selasa, 25 Juli 2017

Nasim Khan `Sosialisasi PBNU` di Kalangan Nelayan Situbondo

Panarukan, Situbondo, laskarjagad [dot] net - Anggota Fraksi PKB MPR RI Ir M Nasim Khan mengatakan, Pancasila merupakan ideologi bangsa Indonesia yang mempersatukan seluruh komponen bangsa yang sangat beragam. Hanya Pancasila sejak Indonesia merdeka yang mampu mengatasi segala persoalan perbedaan kehidupan di Indonesia. 

ANGGOTA FPKB MPR RI M NASIM KHAN MENYERAHKAN CENDERAMATA SAMPAN KEPADA NARASUMBER DPP PKB MOCHYIDIN HARIS. SITUBONDO, 23 JULI 2017. (FOTO: KRA)
Pandangan tersebut disampaikan Bang Nasim, demikian panggilan akrabnya, dalam acara Sosialisasi MPR di Daerah Pemilihan Jawa Timur III, di Aula Papermas, Desa Gelung, Panarukan, Situbondo (23/7). Acara dihadiri narasumber Ketua DPC PKB Ali Yafi Mughni, Abdul Wafi, Dewan Syura Habib Husein Bin Abu Bakar, Ketua DPRD Situbondo Basori, dan beberapa anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa DPRD.  Hadir juga narasumber DPW PKB Jawa Timur Mas Yusuf dan Mas Syamsul dan narasumber DPP PKB Mochyidin Haris. 

MENYANYIKAN LAGU KEBANGSAAN `INDONESIA RAYA` SOSIALISASI MPR DI DAPIL JAWA TIMUR III BERSAMA ANGGOTA FPKB MPR RI, Ir M NASIM KHAN. SITUBONDO, 23 JULI 2017. (FOTO: KRA)
Menurut Bang Nasim yang juga Sekretaris Jenderal Majelis Pesona ini, kelompok-kelompok masyarakat di Indonesia mengalami perkembangan yang dinamis sejalan pergaulan bangsa di tingkat internasional. Bahkan Indonesia menjadi sasaran pengembangan ideologi luar negeri (transnasional) yang bisa mengancam keberlangsungan keharmonisan dan kebersatuan bangsa-bangsa di Indonesia. 

“Melihat kenyataan itu, kita sebagai bangsa Indonesia harus optimis dan percaya. Bahwa Pancasila adalah satu-satunya solusi untuk mengatasi problem perbedaan,” pesan Bang Nasim kepada hadirin mayoritas kalangan nelayan. 

Situbondo Terus Belajar
Ketua DPC PKB Ali Yafi menyatakan, terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada Bang Nasim yang telah memberikan kesempatan kepada warga Situbondo untuk memperoleh materi-materi PBNU, yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UU NRI 1945. 

KETUA DPC PKB SITUBONDO ALI YAFI MUGHNI MENYAMPAIKAN AMANAT WARGA SITUBONDO. SOSIALISASI MPR DI DAPIL JAWA TIMUR III BERSAMA ANGGOTA FPKB MPR RI, Ir M NASIM KHAN. SITUBONDO, 23 JULI 2017. (FOTO: KRA)
“Masyarakat Situbondo ingin terus belajar bagaimana bisa mengakses ilmu pengetahuan dari mana pun asalnya. Kami sebagai DPC PKB akan terus men-support segala upaya positif untuk kemajuan Situbondo,” tutur Ali Yafi. 

Peserta Sosialisasi MPR di Desa Gelung terdiri dari berbagai kalangan petani, peternak, pekebun, dan nelayan. Namun karena bertempat di Desa Gelung merupakan kawasan pantai sehingga sebagian besar pesertanya terdiri dari mereka yang sehari-hari bergelut dengan sampan, jaring, pancing, dan dan air laut. Tidak ketinggalan para ibu-ibu nelayan yang biasanya ikut mengelola hasil laut para suami yang melanglang mencari ikan di laut. 

Pada sesi ramah tamah setelah seremonial acara pembukaan, Anggota MPR Ir M Nasim Khan menyerahkan cenderamata kayujati berbentuk sampan (perahu kecil) dibungkus kaca bening simbol nafas hidup masyarakat Situbondo. 

“Dengan cenderamata ini kami sebagai Wakil Rakyat akan terus berupaya membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat nelayan, kami mohon doa bapak dan ibu semua, mari kita bersholawat nariyah,” pesan Bang Nasim. [kholilul rohman ahmad] 



DESA GELUNG MERUPAKAN KAWASAN PANTAI SEKTOR PARIWISATA PANTAI DAN KAWASAN NELAYAN KABUPATEN SITUBONDO. (FOTO: KRA)

BANG NASIM MENYAMPAIKAN `PESAN-PESAN PBNU` (PANCASILA, BHINNEKA TUNGGAL IKA, NKRI, UU NRI 1945) DAN MEMBUKA SECARA RESMI ACARA SOSIALISASI MPR DI DAPIL JAWA TIMUR III BERSAMA ANGGOTA FPKB MPR RI, IR M NASIM KHAN. DESA GELUNG PANARUKAN, SITUBONDO 23 JULI 2017. (FOTO: KRA)

 ANGGOTA FPKB MPR RI M NASIM KHAN MENYERAHKAN CENDERAMATA SAMPAN KEPADA NARASUMBER DEWAN SYURA  DPC PKB KABUPATEN SITUBONDO. (FOTO: KRA)

 ANGGOTA FPKB MPR RI M NASIM KHAN MENYERAHKAN CENDERAMATA SAMPAN KEPADA NARASUMBER DPC PKB KABUPATEN SITUBONDO.  PANARUKAN, SITUBONDO, 23 JULI 2017. (FOTO: KRA) 

 FOTO BERSAMA NARASUMBER, PENGURUS DPC PKB SITUBONDO, DAN KETUA BESERTA ANGGOTA FPKB DPRD KABUPATEN SITUBONDO. SOSIALISASI MPR DI DAPIL JAWA TIMUR III BERSAMA ANGGOTA FPKB MPR RI, IR M NASIM KHAN. PANARUKAN, SITUBONDO, 23 JULI 2017. (FOTO: KRA) 

 ANGGOTA FPKB MPR RI M NASIM KHAN MENYERAHKAN CENDERAMATA SAMPAN KEPADA NARASUMBER DPW PKB JAWA TIMUR.  SITUBONDO, 23 JULI 2017. (FOTO: KRA)  




Senin, 03 Juli 2017

Getaran Silaturahim Syawalan di Pesantren Tegalrejo

Syawalan di Tegalrejo Magelang

Gus Yusuf, pengasuh pondok pesantren API (asrama perguruan Islam) Tegalrejo Magelang. Bersama ibunya, Bu Nyai Chudlory.

Berlebaran hari pertama Syawal sampai habis bulan Syawal nya, setiap harinya, diliputi ratusan tamu berkunjung ke kediaman Gus Yusuf di kompleks pesantren ini utk silaturahim. Tamu rombongan kecil diterima di ruang tamu, tamu rombongan besar diterima di aula.

Suasana semacam itu sdh berlangsung, mungkin, tiga puluh lima tahun terakhir. Sejak pesantren ini menerima santri putri. Saya berkesempatan menjadi saksi setiap momentum lebaran di sini sekira 10 tahun terakhir.

Tidak ada perubahan signifikan berkaitan tradisi silaturahim Syawalan di kediaman Kiai pengasuh pesantren di​ Tegalrejo --juga di Jawa pada umumnya-- antara lain, teh hangat, camilan peyek, roti, tempe goreng, jenang, krasik'an, emping, kacang bawang, dan makan nasi sebelum tamu pulang.

Suasananya ya seperti itu, sejak dulu sampai sekarang. Warga umum, santri, dan alumni santri bersama keluarga datang `sowan` silahturrahim dan mengucapkan selamat hari raya Idhul Fitri, mohon maaf atas segala khilaf kepada beliau, dan mohon doa utk keberkahan hidup di dunia dan akhirat​. Para tamu menengadahkan tangan ke atas saat Gus Yusuf atau Nyai Chudlori melafalkan doa-doa.

Pada hari kedelapan ini (2/7/2017) saya dan keluarga datang sowan ke Tegalrejo berlebaran dan silaturahim kepada Gus Yusuf dan Ibunya dengan tujuan yang sama, seperti tamu-tamu pada umumnya. Alfatihah.

--Kholilul Rohman Ahmad, kembali ke basis





Sabtu, 24 Juni 2017

Amalan Wiridan di Hari Raya Idul Fitri

Amalan Wiridan di Hari Raya Idul Fitri

Dalam kitab Kanzunnajah Wassurur hal 269-270 cet Dar Al Minhaj disebutkan bahwa di antara amalan yang dianjurkan di Hari Raya adalah:

Pertama,  membaca ISTIGFAR 100X sehabis shalat subuh.

Barang siapa yang mengamalkannya akan dihapus dosanya dan di hari kiamat termasuk orang yang akan diselamatkan dari azab Allah ﷻ

Kedua, 
Memvaca SUBHANALLAH WA BIHAMDIH 100X sebelum berangkat shalat Id kemudian dihadiahkan pahalanya buat orang-orang mukmin yang meninggal dunia.

Barangsiapa yang mengamalkanya maka setiap orang mukmin yang meninggal akan berdoa untuknya,  " wahai zat yang maha pengasih, kasihanilah hambamu ini, dan jadikan pahala untuknya adalah surga,

Dan jika dibacanya 300X kemudian dihadiahkan pahalanya untuk orang2 yang meninggal, maka Allah ﷻ akan kirim ke setiap kubur orang mukmin seribu cahaya dan jika dia meninggal Allah akan kirim pula di kuburnya seribu cahaya untuknya.

KETIGA :
Membaca LAAILAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYARIIKALAH, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU YUHYI WA YUMIIT WAHUWA HAYYUN LAA YAMUUT BIYADHIL KHER WAHUWA ALA KULLI SYAI IN QADIIR

لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد يحي ويميت ، وهو حي لا يموت بيده الخير وهو على كل شيء قدير
Sebanyak 400X sebelum shalat Id.

Barang siapa mengamalkannya maka mendapat pahala memerdekakan 400 budak. Dan Allah akan mengirim Malaikat untuk membangun buatnya sebuah kota di sorga, dan Allah akan menanam bagi nya tanaman sampai hari kiamat.

Sahabat Anas bin Malik RA mengatakan,  " Saya tidak pernah meninggalkannya semenjak pertama kali mendengarnya dari Rosulullah ﷺ

IDHUL FITRI DAN SEPOTONG ROTI YANG BASI

IDHUL FITRI DAN SEPOTONG ROTI YANG BASI

Ada sebuah kisah yang mudah dilupakan kita, tapi seharusnya tak boleh dilupakan, khususnya ketika Ramadhan sudah diambang pintu perpisahan dan sesaat lagi takbir Idhul Fitri berkumandang. Kisah itu tentang keteladanan keluarga Nabi, yaitu datang dari Sayyidina Ali, yang disaksikan dua karibnya; Ibnu Rafi’i dan Abu Al Aswad Ad Du’ali, keduanya pernah ikut perang Jamal bersama Ali bin Abu Thalib, dan kedua karib itu termasuk pembesar kelompok pendukung Ali sampai akhir hayatnya. Kisah ini setidaknya termaktub pada dua buku; Sirrah Ashabu an-Nabi, karya Syekh Mahmud al-Misri dan Syiar A’lam An-Nubala’, karya Imam Adz-Dzahabi.

Persis usai shalat Asar, setelah seharian merasa sedih, karena bulan Ramadhan akan segera berakhir, Ali kemudian pulang  dari Masjid, sesampai di rumah ia disambut sang istri dengan pertanyaan yang bernada penuh perhatian. "Kenapa engkau terlihat pucat, kekasihku,” demikianlah sapa Sayyidah Fatimah, "tak ada tanda-tanda keceriaan sedikitpun di wajahmu, padahal sebentar lagi kita akan menyambut hari kemenangan?” Ali hanya terdiam lesu, tak berapa lama kemudian ia minta pertimbangan Sang istri untuk mensedekahkan semua simpanan pangannya kepada fakir miskin. "Hampir sebulan kita mendapat pendidikan dari Ramadhan, bahwa lapar dan haus itu teramat pedih. Segala puji bagi Allah, yang sering memberi hari-hari kita dengan perut sering terisi..." 

Singkat cerita, sore itu juga, beberapa jam sebelum takbir berkumandang, Ali ibn Abi Thalib terlihat sibuk mendorong pedatinya, yang terdiri dari tiga karung gandum dan dua karung kurma hasil dari panen kebunnya. Ia berkeliling dari pojok kota dan perkempungan untuk membagi-bagikan gandum dan kurma itu kepada fakir miskin dan yatim/piatu. Sementara istrinya, Sayyidah Fathimah az-Zahra, sambil menuntun dua putranya Hasan dan Husein, nampak di tangannya memegang kantong plastik yang besar. Mereka sekeluarga, kompak mendatangi kaum fakir miskin untuk disantuni. Begitu mereka berjalan sampai larut malam, tangannya membagikan santunan, bibirnya bertakbir kepada Allah.

Esok harinya tiba salat ‘Idul Fitri. Sayyidina Ali naik mimbar dan berkotbah di Masjid Qiblatain, potongan isi khotbah itu diantaranya tentang beberapa tanda-tanda orang yang mendapatkan "taqwa" dari puasanya yang sebulan penuh, "Yaitu mereka yang peka hati nuraninya, sehingga menggerakkan tangannya untuk peduli kepada sesama, berbagi rezeki, berbagi kebahagiaan, berbagi senyuman yang hangat, sebab kita semua sudah merasakan, bahwa lapar dan dahaga itu sesuatu yang berat..." Begitulah Sayyidina Ali, beliau tak akan pernah mengucapkan, sebelum ia sendiri sudah melakukan dan memberi keteladanan.

Setelah Shalat 'Id selesai dan hari masih sangat pagi, karib beliau, Ibnu Rafi’i dan Abu Al Aswad Ad Du’ali berkunjung dan bermaksud untuk mengucapkan selamat ‘Idul Fitri kepada keluarga Rasulullah Saw. itu, oh, begitu pintu terbuka, alangkah kagetnya mereka berdua, kedua hidung dua karib ini lamat-lamat mencium aroma yang tak sedap, dari nampan yang berisi gandum dan roti kering yang sudah basi dan disantapnya makanan yang tak layak konsumsi itu dengan lahapnya. Seketika itu Ibnu Rafi’i dan dan Al Aswad Ad Du’ali berucap istighfar, sambil berpelukan dan menangis, karena kedua dada sahabat ini ada yang nyeri di sana.

Merasa tak kuat melihat pemandangan itu, mereka kemudian, berpamitan, sebelum berpelukan, merekapun pergi menjauh dari pemandangan yang menggetarkan itu, di sepanjang jalan mata Ibnu Rafi’i berlinang air mata, perlahan butiran itu menetes di pipinya dan jatuh ke tanah seperti mengukir sebuah jejak kesedihan sampai ke kediamannya. Idul Fitri yang seharusnya penuh suka cita, tapi pagi itu mereka bersedih. Sementara Abu Al Aswad Ad Du’ali, terus bertakbir di sepanjang jalan, kecamuk dalam dadanya sangat kuat, setengah lari ia pun bergegas menghadap Rasulullah Saw. Tiba di depan Rasulullah, iapun mengadu “Ya Rasulullah. Putra baginda, putri baginda dan cucu baginda,” ujar Ad Du’ali terbata-bata. “Tenangkan dirimu, ada apa wahai sahabatku?” tanya Rasulullah menenangkan.

“Segeralah ke rumah menantu dan putri baginda, ya Rasulullah. Saya khawatir cucu baginda Hasan dan Husein akan sakit.”

“Ada apa dengan cucuku dan keluargaku?”

“Saya tak kuat menceritakan itu sekarang, lebih baik menengoknya...”

Tak berpikir lama, Rasulullah Saw. pun segera menuju rumah putrinya. Tiba sampai di halaman rumah, tak ada apa-apa yang dikhawatirkan oleh Ad Du’ali, keluarga itu tak merasa ada apapun yang aneh, justru tawa bahagia mengisi percakapan antara Sayyidina Ali, Sayyidatuna Fathimah dan kedua anaknya. Bahkan, yang sedikit aneh, mata Ad Du’ali sendiri menyaksikan, ternyata keluarga itu masih menyimpan sedikit kurma yang layak dikonsumsi untuk menyambut tamu yang datang. Mata Rasulullah pun sembab, beliau terharu, sebab ia sendiri melihat bekas-bekas makanan basi yang sudah disantap keluarga itu dan bauh anyirnya masih menyengat. Tak terbendung juga butiran mutiara bening menghiasi wajah Rasulullah Saw. nan bersih.

“Ya Allah, Allahumma Isyhad. Ya Allah saksikanlah, saksikanlah." Bibir Rasulullah berbisik lembut. Sayyidatuna Fathimah tersadar kalau di luar pintu rumah, bapaknya sedang berdiri tegak. Gandum basi yang dipegangnya terjatuh ke lantai. “Abah, kenapa engkkau biarkan dirimu berdiri disitu, tanpa memberi tahu kami, oh, relakah abah menjadikan kami anak yang tak berbakti?" Berondong Fathima spontan, lalu mencium tangan Abahnya dan abahnya ke ruang tamu. "Kenapa Abah menangis? Kenapa pula sahabat ad Duali mengikuti dibelakang Abah” Rasulullah tak tahan mendengar pertanyaan itu. Setengah berlari ia memeluk putri kesayangannya sambil berujar, “Semoga kelak surga tempatmu Nak. Surga untukmu.” Mereka yang ada disitu lalu menjawab bersama-sama, Allahuma amin...

Air mata Rasulullah tiba-tiba mengucur ceras, saat melihat sendiri dengan matanya akan kesederhanaan dan kebersahajaan putri beliau bersama keluarganya. Di hari yang Fitri, di saat semua orang berkumpul, canda gurau dan berbahagia, di saat semua hidangan kuliner aneka rupa menumpuk di meja makan.

Keluarga Rasulullah Saw. cukup tersenyum bahagia dengan gandum dan sepotong roti basi yang baunya tercium tak sedap, oleh siapapun yang menghampiri. Ganjil memang, dan orang bisa saja bilang; Duh, segitunya... tetapi orang boleh berbeda dalam penghayatannya pada sesuatu yang bersifat trasendental.

Demikianlah, sekelumit kesaksikan ad Duali dan Ibnu Rafi’i, atas keluarga Rasulullah Saw. pada hari ‘Idul Fitri, selalu saja mereka, orang-orang mulia itu, menyantap makanan yang basi berbau anyir. Jika itupun masih tersisa sedikit yang layak konsumsi itu khusus dihidangkan buat tamu.

Ibnu Rafi’i berkata, “Itulah salah satu dampak pendidikan Ramadhan bagi keluarga Nabi, dan aku diperintahkan oleh Rasulullah Saw. agar tidak menceritakan tradisi keluarganya setiap ‘Idul Fitri. Aku pun simpan kisah itu dalam hatiku. Namun, setelah Rasulullah Saw. meninggal, aku takut dituduh menyembunyikan hadits, maka terpaksa aku ceritakan agar jadi pelajaran bagi segenap kaum Muslimin untuk benar-benar bisa mengambil hikmah dari madrasah Ramadhan.”

Demikian tulis Musnad Imam Ahmad, jilid 2, halaman. 232.

Selamat menyambut kemenangan nan fitri...

Rabu, 15 Maret 2017

Pancasila, Nasim Khan Bersholawat, dan Bahagia Kaum Santri

KEBAHAGIAAN DAN PENGUATAN PANCASILAAnggota FPKB DPR MPR RI Dapil Jawa Timur III, Ir M Nasim Khan, dalam kebersamaan berbingkai Pancasila acara Sosialisasi MPR di Ponpes Nurul Abror Assalafiyah (Ponpes NAA), Alas Buluh, Wongsorejo, Banyuwangi. (Foto: KHOLILUL ROHMAN AHMAD)
BANYUWANGI,– Anggota DPR MPR RI Fraksi PKB Dapil Jawa Timur III, Ir M Nasim Khan, menggelar kegiatan Pendidikan Penguatan Pancasila dan NKRI di Banyuwangi. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari Sosialisasi MPR oleh Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPRRI).

Menurut Bang NK, panggilan akrabnya, memasyarakatkan Pancasila sebagai bagian dari memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan tanggung jawab seluruh warga negara. Meskipun pihaknya menjadi pejabat sebagai wakil rakyat di Senayan, sesungguhnya ‘hanya’ meneruskan tanggungjawabnya sebagai rakyat sebagaimana umumnya.

“Lebih dari itu kita semua punya tanggungjawab untuk tegaknya NKRI dan keutuhan Pancasila. Bukan hanya pejabat saja. Namun seluruh warga negara Indonesia mempunyai kewajiban yang sama, tanpa kecuali,” katanya.

Dikatakan, tegaknya Pancasila dan keutuhan NKRI tidak pernah lepas dari peran para santri dan masyayikh yang gigih bergerak melakukan penguatan nilai-nilai Pancasila di pondok pesantren, surau, musholla, dan masjid. Bahkan khutbah-khutban yang dikumandangkan para khatib saat shalat Jumat merupakan bagian dari penguatan Pancasila sila pertama, yakni ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’.
PANCASILA DAN KAUM SANTRI - Anggota FPKB DPR MPR RI Ir M Nasim Khan menyampaikan kata sambutan kehormatan sekaligus keynote speaker Sosialisasi MPR di Ponpes Nurul Abror Assalafiyah (Ponpes NAA), Alas Buluh, Wongsorejo, Banyuwangi. Dalam sambutan Bang Nasim, Anggota DPR Dapil Jawa Timur III (Situbondoo Bondowoso Banyuwangi), menyampaikan pentingnya kaum santri ikut berperan aktif dalam peguatan Pancasila demi keutuhan NKRI. (Foto: KHOLILUL ROHMAN AHMAD)

“Kita patut berterima kasih kepada para khatib yang istiqamah menyampaikan khutbah-khutbah bernilai Pancasila. Pesan saya, hindarkan khutbah yang provokativ dan memecah belah ummat,” tuturnya.

Acara sosialisasi MPR dan Pendidikan Pancasila di gelar di Pondok Pesantren Nurul Abror Assalafiyah (Ponpes NAA), Alasbuluh, Wongsorejo, Banyuwangi, asuhan KH Fadlurrahman Zaini. Dibuka secara resmi Ketua Umum DPC PKB Banyuwangi HM Joni Subagio dihadiri Anggota DPR MPR RI Ir M Nasim Khan Dapil Jawa Timur III (Situbondo Bondowoso Banyuwangi), Ketua MWC NU Wongsorejo, dan para masyayikh serta asatidz.

Manurut Abah Joni, para peserta diajak menelusuri materi nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, UUD NRI 1945 (PBNU) dan Islam ala Ahlussunah Wal Jamaah. Dari Jakarta hadir narasumber DPP PKB memberikan pembekalan kepada para peserta tentang Pancasila, NKRI, UUD NRI 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan ke-PBNU-an oleh Abdul Fattah. Sementara itu, narasumber DPW PKB Jawa Timur ikut hadir memperkuat pengkaderan Pancasila di Wongsorejo ini, yaitu Syamsul dan Humaidi.

Sekretaris Umum DPC PKB Banyuwangi M Ali Mahrus S Ag mengatakan, fokus pendidikan Pancasila di Banyuwangi diprioritaskan bagi kalangan perempuan. Sebab nilai-nilai Pancasila bisa mudah memasyarakat melalui jalur keluarga di mana para ibu-ibu mempunyai peran menentukan perkembangan Pancasila di masyarakat. 

“Secara tradisi memang laki-laki kepala keluarganya. Faktanya begitu. Namun kaum perempuan ikut menentukan nilai-nilai Pancasila di rumah (keluarga, red.),” kata Ali Mahrus didampingi Pengurus PAC Wongsorejo, Ahmad Taufik.

Bang NK, menyatakan, penguatan Pancasila di Banyuwangi harus tumbuh dan tangguh dalam mempersiapkan generasi bangsa yang akan datang. Seluruh kader Pancasila diharapkan mampu membawa nama baik Nahdlatul Ulama, para guru, dan masyayikh yang telah memberikan ilmu-ilmu kehidupan dan keilahian kepada kita.


“Di sinilah makna penting Pancasila bagi kita sebagai kaum santri,” pungkasnya. -kra

Ayo daftar Jadi Jutawan